PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
A. PENGERTIAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN
Pertumbuhan dan perkembangan dalam kehidupan manusia merupakan dua sisi mata uang yang menunjukkan gambaran yang berbeda, tetapi merupakan dua hal yang tak terpisahkan, bahkan kadang dikacaukan pengertiannya. Secara umum, pertumbuhan dan perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang bersifat progresif dan terus menerus. Untuk mempermudah pemahaman terhadap dua istilah tersebut, perlu disepakati dahulu apa yang dimaksud dengan pertumbuhan dan apa pengertian perkembangan serta hubungan dari keduanya.
Narendra (2002) menjelaskan bahwa pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah sel serta jaringan intraseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh dalam arti sebagian atau seluruhnya. Maka dari itu pertumbuhan berkaitan dengan perubahan yang bersifat kuantitatif yang mengacu pada jumlah, besar, serta luas yang bersifat konkret yang biasanya menyangkut ukuran dan struktur biologis. Pertumbuhan merupakan perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses kematangan fungsi-fungsi fisik yang ¡ berlangsung secara normal dalam perjalanan waktu tertentu. Hasil pertumbuhan berupa bertambahnya ukuran kuantitatif dari fisik anak seperti tinggi dan berat badan, kekuatan, ataupun proporsi sehingga secara ringkas pertumbuhan adalah proses perubahan dan kematangan fisik yang menyangkut perubahan ukuran atau perbandingan. (Halaman 37)
Pertumbuhan bisa dilihat dengan memperhatikan bentuk fisik dari makhluk hidup. Contoh: Seorang bayi yang tadinya berbadan kecil, kemudian seiring berjalannya waktu, bayi tersebut tumbuh menjadi besar.
Menurut Monks dkk, (2001) menjelaskan bahwa perkembangan adalah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada kualitas fungsi organ-organ jasmaniah dan bukan pada organ jasmani tersebut sehingga penekanan arti perkembangan terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang termanifestasi pada kemampuan organ fisiologis. Proses perkembangan akan berlangsung sepanjang kehidupan manusia, sedangkan proses pertumbuhan seringkali akan berhenti jika seseorang telah mencapai kematangan fisik, Misalnya: perkembangan bayi mulai terungkap, merangkak hingga berjalan.
Meskipun antara pertumbuhan dan perkembangan mempunyai perbedaan pengertian, tetapi selalu harus dipahami bahwa antara keduanya merupakan proses yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Misalnya, ketika membahas perkembangan kecerdasan anak tidak akan dapat terlepas; dari pembahasan tentang berfungsinya sel-sel otak sebagai faktor fisiologis yang menunjang manifestasi kecerdasan itu sendiri. Pertumbuhan dan perkembangan manusia mengikuti pola yang bersifat umum, tetapi irama dan tempo perkembangan bersifat individual. Irama pertumbuhan dan perkembangan menyangkut urutan dari kemampuan spesifik seseorang termasuk sikap dalam menerima perubahan tersebut, sedangkan tempo perkembangan menyangkut waktu atau satuan waktu untuk memperoleh perubahan.
Susilo Windradini (1995) menyatakan bahwa proses dan perkembangan harus berjalan seiring dan merupakan proses yang tidak berdiri sendiri -
(halaman 38)tetapi dipernagruhi oleh beberapa faktor yaitu: 1) hereditas; 2) lingkungan; 3) kematangan fisik dan psikhis; 4) serta aktivitas anak sebagai objek bebas yang punya otoritas untuk membuat pilihan menerima atau menolak serta memiliki emosi. Faktor-faktor tersebut semuanya akan dijelaskan pada bab selanjutnya.
(halaman 39)
Footnote :
Sukiyanto & Tsalıtsatul Maulidah. Perkembangan Peserta Didik. (Lamongan: Graha Ilmu, 2020). H. 37-39
Sampul Buku
B. PRINSIP-PRINSIP DALAM PERKEMBANGANDalam memahami perkembangan, terdapat juga beberapa prinsip dalam perkembangan yang perlu diketahui yaitu:
1. Nature vs Nurture
Dalam perkembangan, prinsip yang perlu diketahui adalah tentang konsep nature dan nurture. Nature terkait dengan faktor bawaan yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan individu. Sedangkan Nurture terkait dengan faktor lingkungan, faktor belajar dan pengalaman yang memengaruhi perkembangan manusia.
Nature dan nurture keduanya berpengaruh dalam perkembangan manusia. Namun, faktor nurture lebih dapat berpengaruh terhadap perkembangan manusia. (HALAMAN 13)
Contohnya dalam hal kecerdasan, potensi kecerdasan bawaan berpengaruh 20% pada seseorang, sedangkan 80%, nya lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan, belajar, pengalaman dan gizi.
Seorang anak yang lahir dari ibu yang kurang berpendidikan dan menengah ke bawah, bila la mendapatkan stimulasi yang tepat dari ibu bapaknya yang mendidik anaknya dengan kasih sayang dan mengupayakan anaknya untuk tetap mendapat pendidikan yang terbaik, bisa jadi akan berkembang menjadi anak yang pandai di kelas. Dibanding bapak ibunya yang pandai dan berpendidikan, termasuk menengah ke atas, namun tidak memberi stimulasi yang tepat karena kesibukannya dengan kegiatan dan pekerjaannya, dapat membuat anak kurang perhatian dan gagal dalam pendidikannya. Namun, bila anak memiliki potensi bawaan yang positif dari orang tuanya, lalu diberikan stimulasi yang tepat, maka perkembangannya akan berkembang lebih optimal.
2. Perkembangan Itu Bersifat Aktif vs Pasif
Perkembangan seorang individu dipandang sebagai dua hal yang berbeda. Ada yang memandang bahwa individu itu berkembang secara mekanistik atau pasif, karena seperti dikatakan John Locke dengan teorinya tentang tabula rasa yang mengatakan bahwa individu itu saat lahir seperti kertas kosong, dimana individu akan berkembang seperti apa tergantung pada lingkungan yang membentuknya.
Namun disisi lain, ada pula yang memandang bahwa individu itu berkembang tidak hanya sekedar mekanis seperti mesin, tetapi individu juga berkembang secara aktif atau organismik mengatur dan mengontrol dirinya untuk berkembang dan tumbuh menjadi seseorang yang seperti diinginkannya sendiri. Faktor internal dari dalam dirinya sangat memengaruhi individu berkembang seperti apa dengan mengabaikan faktor lingkungan yang akan memengaruhinya.
Dari kedua pandangan tersebut, sebenarnya jika dipelajari lebih lanjut, individu itu berkembang secara aktif maupun pasif. Individu menjadi agen aktif dalam mengarahkan jalan perkembangannya sendiri yang mengembangkan rasa ingin tahunya dengan cara mengeksplorasi apa saja yang terdapat di lingkungannya. Tetapi, sebagai makhluk sosial, Individu tetap akan berkembang secara optimal dengan adanya stimulasi dan pengaruh dari lingkungan. (Halaman 14)
3. Kontinuitas dan Diskontinuitas Perkembangan itu dipandang pula sebagai perkembangan yang continue atau discontinue. Para ahli yang memandang perkembangan itu continue melihat bahwa perkembangan itu merupakan hasil pengalaman yang diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan dari usia prenatal hingga kematian. Seperti kemampuan anak dalam berjalan, kemampuan tersebut dianggap sebagai hasil belajar dan pengalaman yang didapat ara continue berkelanjutan dari mulai belajar berdiri, merambat, berjalan dengan bantuan lalu berjalan sendiri.
Berbeda halnya dengan pandangan lain yang memandang bahwa perkembangan itu berubah dan terjadi secara bertahap atau tidak berkelanjutan (discontinue). Perkembangan disetiap tahapannya berbeda satu sama lain, tidak terkait dengan tahap selanjutnya, digambarkan seperti kupu-kupu yang berkembang dari ulat menjadi kepompong merupakan tahapan yang bentuknya berbeda. Dalam perkembangan misalnya pada perkembangan kognitif anak usia prasekolah yang sifatnya masih konkret berbeda dengan tahap perkembangan kognitif usia remaja yang sudah bisa berpikir secara abstrak.
Meski begitu, lebih banyak ahli yang memandang bahwa perkembangan itu terjadi di tengah-tengah antara continue dan discontinue. Jadi terdapat perkembangan yang memang didapat dari hasil pengalaman dan berkelanjutan, tetapi ada pula perkembangan yang memang berkembang pada tahap-tahap tertentu dan berbeda antara tahap perkembangan yang satu dengan tahap perkembangan lainnya.
4. Perubahan individu bersifat stabil vs tidak stabil
Perkembangan individu dalam hal ini dipandang sebagai perkembangan yang terjadi secara stabil dari bayi hingga kematian karena adanya faktor herediter. Individu dianggap memiliki karakteristik yang sama atau stabil dalam hal kecerdasan, kepribadian dan perkembangan lainnya. Di sisi lain ada pula yang menganggap bahwa perkembangan itu bisa saja berubah-ubah atau tidak stabil tergantung pengaruh dari lingkungan, misalnya seorang anak yang berasal dari keluarga yang menengah ke bawah yang kurang mendapat pendidikan dan kurang optimal, bisa jadi dia akan berkembang lebih optimal ketika mendapat pengalaman baru dan stimulasi optimal dari lingkungannya.(Halaman 15)
Footnote:
Iriani Indri Hapsari. Psikologi Perkembangan Anak. (Jakarta Barat: Indeks, 2016). H. 13-15
Sampul Buku :
Daftar Pustaka
Iriani Indri Hapsari. Psikologi Perkembangan Anak. (Jakarta Barat: Indeks, 2016).
Sukiyanto & Tsalıtsatul Maulidah.
Perkembangan Peserta Didik. (Lamongan: Graha Ilmu, 2020).
Komentar
Posting Komentar