Cerpen : Takdir Yang Berbisik

Takdir Yang Berbisik

karya : Fika Zahrotul Rofi'ah


Fajar masih menggantung di ufuk timur kala Liona mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah mungil di sudut kampung. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Mentari mulai menampakkan diri, menyorotkan sinarnya yang menyengat. Namun itu tak menghalau Liona untuk terus melangkah. Pekerjaannya di kota sebagai seorang pembantu rumah tangga tak memungkinkannya memiliki waktu luang. 

Saat Liona memasuki area perkotaan yang semakin padat, kedengaran dengungan hiruk-pikuk aktivitas manusia. Klakson mobil bersahutan, deru mesin kendaraan bermotor mengiringi setiap tapak kakinya. Liona menghela napas panjang. Ia telah terbiasa dengan semua itu. 

Sesampainya di sebuah rumah mewah bergaya modern, Liona mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita setengah baya membukakan pintu untuknya. Senyum sumringah menghiasi wajah wanita itu.

"Selamat pagi, Non. Seperti biasa, Liona akan membersihkan rumah dulu."

Begitulah awal hari Liona di rumah majikannya, Nyonya Constanza. Tak ada yang spesial. Semua berjalan rutin seperti biasanya. Liona membersihkan setiap sudut rumah dengan tekun. Sesekali Nyonya Constanza memanggilnya untuk meminta dibuatkan sarapan atau membantunya mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Hari ini Liona sedikit terlambat pulang karena Nyonya Constanza memintanya untuk menemaninya berbelanja kebutuhan bulanan. Liona tak keberatan. Majikannya itu baik hati dan tidak pernah memandang rendah dirinya sebagai seorang pembantu. 

Matahari telah berganti posisi ke barat kala Liona pamit untuk pulang. Nyonya Constanza memeluknya sambil berpesan agar berhati-hati di jalan. Seperti biasa, Liona berjalan kaki menapaki jalanan yang sama saat ia berangkat kerja beberapa jam sebelumnya.

Sebuah teriakan membahana membuyarkan lamunan Liona. Terdengar derap langkah tergesa dari sebuah gang sempit tak jauh dari tempatnya berdiri. Liona memicingkan mata untuk melihat lebih jelas ke arah suara itu berasal.

Seorang pria bertubuh jangkung berlari pontang-panting dikejar dua orang berpakaian preman. Wajahnya mengisyaratkan ketakutan luar biasa. Pria itu kemudian menabrak seorang wanita tua hingga membuatnya terjembab ke tanah dengan keras.  

Tanpa berpikir panjang, Liona bergegas menghampiri wanita tua malang tersebut. Ia membantunya berdiri dan membersihkan debu yang menempel di pakaian wanita itu. Sementara si pria berusaha kabur sekuat tenaga, diikuti kedua preman yang mengejarnya. 

"Ibu tidak apa-apa?" tanya Liona kawatir.

Wanita tua itu menatap Liona dengan pandangan memelas. "Cucuku... Mereka mengejar cucuku..."

Liona terkejut mendengar pengakuan wanita itu. Rupanya pria yang tengah dikejar tadi adalah cucunya. Tanpa meminta keterangan lebih lanjut, Liona segera berlari menyusuri arah larinya si pria tadi. 

Beberapa saat kemudian, Liona menemukan ketiga orang itu tengah terlibat baku hantam di sebuah gang sempit yang lengang. Si pria sudah terjerembab di tanah dengan luka lebam di wajahnya. Kedua penjahat itu tampak membabi buta menghajarnya. 

Melihat pemandangan memprihatinkan itu, amarah Liona tersulut. Ia mencari benda yang dapat dijadikan senjata untuk melawan kedua preman itu. Di dekatnya terdapat sebuah tongkat besi berkarat yang cukup panjang dan kokoh.

"Hei, brengsek! Lepaskan dia!" teriak Liona sembari mengayunkan tongkatnya sekuat tenaga.  


BUGHH!! 


Hantaman telak mengenai punggung seorang preman hingga membuatnya tersungkur tak berdaya. Preman satunya hendak menyerang Liona, namun Liona lebih gesit mengayunkan tongkat besinya sekali lagi.


BRAKK!!


Preman kedua itu tersungkur tak sadarkan diri dihajar oleh Liona. Liona lalu membantu si pria untuk berdiri. Wajahnya sudah babak belur namun ia masih sadar. 

"Kau tidak apa-apa?" tanya Liona cemas.

Pria itu mengangguk lemah. "Terima kasih... Kau menyelamatkan nyawaku...."

Sebuah tangan keriput lalu menyentuh lengan Liona dari belakang. Wanita tua pemilik si pria rupanya telah menyusul ke tempat itu. Air matanya berlinang menatap cucunya yang terluka.

"Cucuku..." Wanita itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk pria yang rupanya adalah cucunya sendiri.


Beberapa jam kemudian...


"Terima kasih banyak, Nak. Kau telah menyelamatkan cucuku dari bajingan-bajingan itu," ujar wanita tua itu dengan senyum mengembang.  

Liona hanya tersenyum menanggapinya. Ia memandangi wajah sang cucu yang kini telah diobati lukanya oleh sang nenek.

"Kalau boleh tahu, Ada masalah apa sebenarnya sampai kalian dikejar seperti itu?" tanya Liona pada sang cucu yang bernama Oki.

Oki menghela napas panjang. "Saya berhutang pada kedua preman itu, Non. Mereka memberi saya pinjaman uang dalam jumlah besar. Namun setelah niat buruk mereka saya ketahui, saya tak berniat lagi untuk membayar hutang itu."

"Niat buruk?"

"Benar, Non. Uang itu mereka minta untuk modal membuka bisnis perjudian dan peredaran narkoba. Tentu saja saya menolak dan berniat membayar hutang itu dengan cara halal sedikit demi sedikit. Tetapi mereka tidak sabaran dan mengancam akan membunuh nenek saya kalau saya tidak membayar semuanya." 

Oki memandangi neneknya dengan wajah sendu. "Nenek adalah satu-satunya keluarga yang saya miliki di dunia ini."

Liona terdiam sejenak. Ia menatap kedua manusia di hadapannya dengan pandangan teduh. "Perjuangan kalian sungguh mengharukan. Tapi setidaknya kalian saling memiliki."

Oki mengangguk. "Anda benar, Non.

Baiklah, berikut adalah kelanjutan dari cerpen "Takdir yang Berbisik":

Sunyi sejenak menyelimuti ruangan itu. Liona tampak memandang ke luar jendela dengan pandangan menerawang. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh suara Nenek Oki.

"Non Liona, bolehkah Nenek bertanya sesuatu?"

Liona menoleh dengan raut wajah penuh tanya.

"Tentu saja, Nek. Ada apa?" sahutnya ramah.

Nenek Oki menatap Liona dengan sorot teduh khas orang-orang sepuh. Diusapnya tangan keriput Liona dengan gerakan lembut.

"Kenapa Non Liona begitu baik dan berani menolong orang seperti kami? Bukankah seharusnya Non Liona merasa takut atau tidak peduli?"

Liona tersenyum getir. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali memori masa lalunya.

"Saya memang bukan siapa-siapa, Nek. Hanya seorang pembantu yang tak punya keluarga. Namun...." Liona menggantungkan kalimatnya sejenak.

"Dulu saya pernah mengalami nasib seperti kalian. Ditindas, disakiti, bahkan dipaksa mengemis untuk dapat menyambung hidup. Tidak ada yang menolong saya waktu itu."

Nenek Oki dan Oki terkesiap mendengar pengakuan Liona.

"Astaga, Non... Sungguh malang nasib yang menimpa Non Liona waktu itu."

Liona mengangguk perlahan.  

"Memang benar, Nek. Kehidupan telah menempa saya hingga menjelma seperti sekarang. Saya bertekad, jika kelak diberi kesempatan untuk menolong orang lain yang membutuhkan, saya akan melakukannya."

"Dan saya bersyukur bisa menyelamatkan Oki dari penjahat-penjahat itu, Nek. Walau hanya dengan sedikit keberanian, setidaknya ia tak perlu mengalami penderitaan yang pernah menimpa saya."

Suasana kembali hening sejenak. Hanya terdengar isak tangis lirih dari Nenek Oki. Beliau tampak terharu mendengar kisah pedih yang mengiringi perjalanan hidup Liona.

"Non Liona sungguh berjiwa besar..." gumam Oki memuji.

Liona menggeleng pelan.  

"Kita semua punya takdir masing-masing, Oki. Apa yang saya lakukan tadi adalah bisikan takdir agar saya bisa berguna bagi sesama. Dan saya yakin, kalian juga akan mendapat bisikan takdir untuk bisa keluar dari penderitaan ini suatu hari nanti."

Oki dan Neneknya saling berpandangan. Senyum tipis mengembang di wajah mereka yang telah layu diterpa kesulitan hidup.

"Terima kasih, Non Liona. Anda telah memberi kami harapan bahwa keadaan akan membaik suatu saat nanti," ujar Oki tulus.

Liona bangkit dari duduknya dan berujar,   

"Kalau begitu, saya mohon pamit dulu. Besok pagi saya harus kembali bekerja."

"Biar Nenek antar ke pintu, Non," Nenek Oki lalu mengantar kepergian Liona.

Di ambang pintu, Nenek Oki memeluk Liona dengan hangat.  

"Terima kasih, Non Liona. Kami berutang nyawa pada Non."

Liona membalas pelukan itu dengan senyuman teduh.

"Sudah menjadi kewajiban kita untuk saling tolong-menolong, Nek."

Setelah melepas pelukannya, Liona melangkah pergi. Namun sebelum menjauh, ia menoleh ke arah Nenek Oki sekali lagi.

"Nek, jangan lupa yah, selalu buka telinga untuk mendengar bisikan takdir!"

Kalimat itu membuat Nenek Oki terpana dibuatnya. Seulas senyum kembali terbit di wajah yang mulai mengeriput itu.

"Iya, Non Liona. Nenek akan selalu mendengarkan bisikan takdir..."

Malam itu, ketika Liona berjalan pulang dalam remang cahaya bulan purnama, hatinya menghangat. Tindakannya menolong Nenek Oki dan cucunya tadi membuatnya bahagia. Sebab ia telah memberi kesempatan pada orang lain untuk bisa mendengarkan bisikan takdir. Bisikan untuk tetap berjuang mengarungi kehidupan yang berliku-liku hingga menemukan titik bahagia.

Liona tersenyum sambil menerawang ke arah langit berbintang. Bisikan takdir itu akan terus mengalun, menuntun setiap langkah manusia untuk menggapai harapan akan kehidupan yang lebih baik.


TAMAT




Fika Zahrotul Rofi'ah

Mahasiswi UIN Sayyid Ali Rahmatullah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DDPH; Hadis tentang lingkungan pendidikan (keluarga)

Media Pembelajaran: Konsep Dasar Media dan Media Pembelajaran