Cerpen : Takdir Yang Berbisik

Takdir Yang Berbisik karya : Fika Zahrotul Rofi'ah Fajar masih menggantung di ufuk timur kala Liona mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah mungil di sudut kampung. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Mentari mulai menampakkan diri, menyorotkan sinarnya yang menyengat. Namun itu tak menghalau Liona untuk terus melangkah. Pekerjaannya di kota sebagai seorang pembantu rumah tangga tak memungkinkannya memiliki waktu luang.  Saat Liona memasuki area perkotaan yang semakin padat, kedengaran dengungan hiruk-pikuk aktivitas manusia. Klakson mobil bersahutan, deru mesin kendaraan bermotor mengiringi setiap tapak kakinya. Liona menghela napas panjang. Ia telah terbiasa dengan semua itu.  Sesampainya di sebuah rumah mewah bergaya modern, Liona mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita setengah baya membukakan pintu untuknya. Senyum sumringah menghiasi wajah wanita itu. "Selamat pagi, Non. Seperti biasa, Liona akan membersihkan rumah dulu." Begitulah awal har...

DDPH: Hadis Tentang Lingkungan Pendidikan (sekolah)

 Hadis Tentang Lingkungan Pendidikan (sekolah)


A. Hadis tentang urgensi sekolah (madrasah)


سنن الدارمي ٣٠٨: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ بُرْقَانَ عَنْ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ قَالَ سَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ شَيْءٍ مِنْ الْأَهْوَاءِ فَقَالَ عَلَيْكَ بِدِينِ الْأَعْرَابِيِّ وَالْغُلَامِ فِي الْكُتَّابِ وَالْهَ عَمَّا سِوَى ذَلِكَ قَالَ أَبُو مُحَمَّد كَثُرَ تَنَقُّلُهُ أَيْ يَنْتَقِلُ مِنْ رَأْيٍ إِلَى رَأْيٍ

Sunan Darimi 308: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Yusuf dari Sufyan dari Ja'far bin Burqan dari Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu ia berkata: "Ada seorang laki-laki bertanya kepadanya tentang hawa nafsu, maka ia berkata: 'Hendaknya kamu senantiasa memegang teguh agama orang-orang Arab dan anak-anak dalam madrasah. Dan tinggalkanlah selain hal itu, Abu Muhammad berkata: 'Maksudnya banyak berpindah, yaitu berpindah dari satu pendapat ke pendapat yang lain' ".

Kata madrasah adalah bentuk ism makân (kata tempat) dari darasa, yadrusu, darsan, yang berarti belajar. Jadi, madrasah berarti tempat belajar. Sebutan itu menunjuk kepada fungsi utama madrasah dalam kultur Islam, yaitu tempat belajar. Atas dasar pengertian inilah tampaknya sebagian ahli pendidikan Islam menyebut pusat-pusat pendidikan seperti tersebut di atas dengan madrasah. Dengan perkataan lain, tempat-tempat itu dapat dibedakan menjadi madrasah dan bukan madrasah bukan atas (halaman 223) dasar bentuk bangunannya, melainkan atas fungsinya sebagai tempat belajar dan bukan tempat belajar.(halaman 224)

MENTAHAN MAKALAH KLIK DISINI

FOOTNOTE:

Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Katalog Dalam Terbitan, 1999), hal 223-224.

Lingkungan Sekolah Menurut Tu’u (2004:18) sekolah merupakan wahana kegiatan dan proses pendidikan, pembelajaran dan latihan. Di sekolah nilai-nilai etik, moral, mental, spiritual, perilaku, disiplin, ilmu pengetahuan dan ketrampilan ditabur, ditanam, disiram, ditumbuhkan dan dikembangkan. Oleh karena itu, sekolah menjadi wahana yang sangat dominan bagi prestasi belajar. Menurut Depdiknas (2013: 1144) dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran. Sedangkan berdasarkan undang-undang no 2 tahun 1989 sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan paparan di atas maka sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Sebagai suatu organisasi sekolah memiliki persyaratan tertentu. Sekolah memiliki jenjang pendidikan tertentu. Adapun jenjang pendidikan di sekolah adalah: a. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) PAUD ialah pendidikan dan pembinaan yang diberikan kepada anak sejak lahir hingga berusia enam tahun. Pendidikan ini diberikan kepada anak usia dini untuk membantu tumbuh kembang jasmani dan rohani anak menuju jenjang pendidikan berikutnya. b. Pendidikan Dasar Pendidikan dasar ialah tahapan pendidikan awal selama sembilan tahun, yaitu Sekolah Dasar (SD/MI) selama enam tahun dan Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) selama 3 tahun. Pendidikan dasar (halaman 118) sembilan tahun ini merupakan bentuk Program Wajib Belajar yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia. c. Pendidikan Menengah Pendidikan menengah ialah tahapan pendidikan berikutnya setelah pendidikan dasar sembilan tahun. Pendidikan menengah ini umumnya disebut dengan Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/MA), waktu belajarnya ialah selama tiga tahun. d. Pendidikan Tinggi Pendidikan tinggi merupakan tahapan pendidikan tingkat lanjutan setelah pendidikan menengah dan diselenggarakan oleh perguruan tinggi, adapun beberapa program pendidikan yang termasuk dalam pendidikan tinggi ialah: Diploma, Sarjana, Magister dan Doktor. Sebagaimana halnya dengan keluarga dan institusi sosial lainnya, sekolah merupakan salah satu institusi sosial yang mempengaruhi proses sosialisasi dan berfungsi mempengaruhi sosialisasi dan berfungsi mewariskan kebudayaan masyarakat kepada anak. Sekolah merupakan suatu sistem sosial yang mempunyai organisasi yang unik dan pola relasi sosial diantara para anggotanya yang bersifat unik pula. Ini kita sebut sebagai kebudayaan sekolah. Ahmadi (2007:187) menyatakan bahwa kebudayaan sekolah itu mempunyai beberapa unsur penting, yaitu: a. Letak lingkungan dan prasarana fisik sekolah (gedung, sekolah, perlengkapan yang lain). b. Kurikulum sekolah yang memuat gagasan-gagasan maupun faktafakta yang menjadi keseluruhan program pendidikan. c. Pribadi-pribadi yang merupakan warga sekolah yang terdiri atas siswa, guru, non teaching spesialis dan tenaga administrasi. d. Nilai-nilai norma, sistem peraturan dan iklim kehidupan sekolah. Sekolah juga merupakan wahana yang mempengaruhi keberhasilan siswa. Menurut Slameto (2003:64) terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi belajar siswa di sekolah antara lain: (1) Metode Mengajar; (2) Kurikulum; (3) Relasi Guru dengan Siswa; (4) Relasi Siswa dengan Siswa; (5) Disiplin Sekolah; dan (6) Fasilitas Sekolah (halaman 119) Jika menilik dari kedudukan keluarga, lembaga atau institusi yang disebut sekolah itu mewakili orang tua atau keluarga dalam mendidik anak. Itu berarti sekolah merupakan tangan ke dua setelah keluarga yang berfungsi untuk mengembangkan / meningkatkan ilmu seseorang setelah keluarga.(halaman 120)

FOOTNOTE:

Rahmad Hidayat & Abdillah, Ilmu Pendidikan, (Medan: LPPPI, 2019), H. 118-120.


B. Hadis Pendidikan Anak Usia Dini

Anak usia dini sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Anak sangat aktif dalam proses tumbuh kembangnya. Selain itu, anak mempunyai beragam kebutuhan guna menunjang keaktifan dalam proses tumbuh kembangnya. Kebutuhan anak beraneka ragam seperti kasih sayang, penerimaan oleh teman sebaya dan lingkunganya, serta harga diri. Glasser mengemukakan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi seperti kebutuhan untuk bertahan hidup, kebutuhan memiliki, berkuasa, dan kesenangan. Jadi, anak membutuhkan rasa aman, nyaman, diterima, eksplorasi, dan aktivitas. Diana juga menjelaskan bahwa anak usia dini adalah kelompok anak yang berada dalam proses pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat unik. Artinya, memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan fisik seperti koordinasi motorik kasar dan halus, kecerdasan seperti daya pikir, daya cipta, sosioemosional, bahasa, dan komunikasi. Masa pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini ada beberapa tahapan. Jamaris menyatakan bahwa pada masa tiga tahun pertama kehidupannya, anak memerlukan bantuan dan pemahaman orang-orang disekitarnya untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Pada tahapan selanjutnya, anak akan mengembangkan berbagai pengetahuan dan keterampilannya.Oleh sebab itu, lingkungan yang mempunyai berbagai nilai budaya dan stimulasi yang tepat berdasarkan usia sangat mempengaruhi perkembangan anak ke arah yang lebih baik. Anak bukanlah orang dewasa kecil (small adult). Perkembangan usia anak melalui beberapa tahapan mulai dari bayi (baby), masa kanak-kanak awal (early childhood), dan masa kanak-kanak pertengahan (middle childhood). Disamping itu, proses lain yang akan dilalui anak adalah proses biologis (biological processes) meliputi perubahan pada pemikiran intelegensi dan bahasa individu.Anak merupakan amanah Allah SWT yang harus dijaga dan dibina. Hatinya yang suci merupakan permata yang sangat berharga. Ia membutuhkan pemeliharaan, penjagaan, kasih sayang, dan perhatian. Oleh karena itu, orang tua memegang faktor kunci yang bisa menjadikannya tumbuh dengan jiwa Islami.

صحيح مسلم ٣٧٦٧: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ سُفْيَانَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ وَهْبِ بْنِ كَيْسَانَ سَمِعَهُ مِنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ كُنْتُ فِي حَجْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَتْ يَدِي تَطِيشُ فِي الصَّحْفَةِ فَقَالَ 
لِي يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ


Shahih Muslim 3767: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Abu 'Umar -semuanya- dari Sufyan: Abu Bakr berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Al Walid bin Katsir dari Wahb bin Kaisan yang dia dengar dari 'Umar bin Abu Salamah ia berkata: Dulu aku berada di pangkuan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, lantas tanganku memegang piring, maka beliau bersabda kepadaku: "Wahai anak, sebutlah nama Allah, dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah yang ada di hadapanmu."

 سنن أبي داوود ٤١٧: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى يَعْنِي ابْنَ الطَّبَّاعِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

 Sunan Abu Daud 417: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isa bin Ali bin Abi Thalib-Thabba' telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Abdul Malik bin Ar-Rabi' bin Sabrah dari Ayahnya dari Kakeknya dia berkata: Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya."

FOOTNOTE:
Isnaeni, R. F., & Suryadilaga, M. A. (2020). Pendidikan Hadis Untuk Anak Usia Dini. Jurnal Studi Hadis Nusantara2(1). H. 7-8.

C. Hadis Pendidikan Masa Remaja
Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak-anak dan masa dewasa yakni antara 12-21 tahun. Remaja yang merupakan masa dimana individu dalam proses pertumbuhan (terutama fisik) telah mencapai kematangan, terutama pada masa ini melihat perubahan-perubahan jasmaniah berkaitan dengan proses kematangan jenis kelamin. Terlihat perkembangan psikososial berhubungan dengan fungsinya seseorang dalam lingkungan sosial, yakni dengan melepaskan diri dari ketergantungan orang tua, pembentukan rencana hidup dan pembentukan sistem nilai-nilai. Dalam teori perkembangan remaja, melalui pendekatan kognetif. Masa remaja merupakan operasi mental tingkat tinggi, disini anak (remaja) sudah dapat berhubungan dengan peristiwaperistiwa hipotesis atau abstrak, tidak hanya dengan obyek-obyek kongkret, remaja juga dapat berfikir abstrak dan dapt memecahkan masalah melalui pengujian alternatif yang ada. Bagi remaja sangat diperlukan adanya pemahaman, pendalaman serta ketaatan terhadap ajaran-ajaran agama yang dianut. Dalam kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa anakanak remaja yang melakukan kejahatan sebagian besar kurang memahami isi dari agama, bahkan mungkin lalai menunaikan perintah-perintah agama, antara lain mengikuti acara kebaktian misalnya (dalam Kristen), puasa dan shalat (dalam Islam). Dalam sebuah hadist nabi disebutkan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, namun kedua orang tua-nyalah yang akan memberikan agama pada mereka. Demikian pula anak akan dipengaruhi oleh sifat-sifat yang buruk. Ia mempelajari sifat-sifat buruk itu dari lingkungan yang dihidupinya, dari corak hidup yang dapat memberikan kepadanya dan juga dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya. Ketika anak baru dilahirkan keadaan tubuhnya masih belum sempurna, kekurangan ini dapat diatasinya dengan latihan dan pendidikan yang ditunjang dengan makanan. Dekmikian juga dengan tabiat yang diftrahkan kepada anak, yang merupakan kebajikan yang diberiakan Khaliq kepadanya. Tabiat ini masih dalam keadaan berkekurangan (dalam keadaan belum berkembang dengan sempurna). Dan mungkin dapat disempurnakan serta diperindah dengan pendidikan yang baik. Anak-anak remaja yang merupakan bagian yang harus menerima agama sesuai dengan fitrahnya, yakni merupakan suatu subyek yang memiliki dua kondisi antara jasmaniah dan rohaniah. Maka dari itu agama dalam perwujudannya mencakup dua segi : memperbaiki, meluruskan, serta mengharmoniskan sifat, tabiat, watak manusia kearah tujuan yang lebih benar, sedangkan sisi lain agama yang menyinggung segi jasmaniah anak yang sehat mental, moral dan spiritual dalam arti yang sebenar-benarnya.


موطأ مالك ١٥٠١: و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ خُبَيْبِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَوْ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَا خَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُودَ إِلَيْهِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَى ذَلِكَ وَتَفَرَّقَا وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ ذَاتُ حَسَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ 
 Muwatha' Malik 1501: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Khubaib bin Abdurrahman Al-Anshari dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Sa'id Al Khudri, atau dari Abu Hurairah ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tujuh golongan orang yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Seorang imam yang adil. Seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah. Seorang pemuda yang hatinya terpaut dengan masjid. Dua orang pemuda yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya. Seseorang yang berdzikir kepada Allah dalam kesendirian lalu mengucur air matanya. Seorang pemuda yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan lalu dia berkata: 'Sesungguhnya aku takut kepada Allah.' Dan seorang laki-laki yang bersedekah, lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya."

 صحيح البخاري ٦٢٠: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي خُبَيْبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ حَفْصِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ 

 Shahih Bukhari 620: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar Bundar berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Ubaidullah berkata: telah menceritakan kepadaku Khubaib bin 'Abdurrahman dari Hafsh bin 'Ashim dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata: 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis."

FOOTNOTE:
Ahmadi, A. (2017). Peran Pendidikan Agama Islam Dalam Membina Para Remaja (Doctoral dissertation, Uin Sultan Maulana Hasanudin Banten), H. 69-71.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Takdir Yang Berbisik

DDPH; Hadis tentang lingkungan pendidikan (keluarga)

Media Pembelajaran: Konsep Dasar Media dan Media Pembelajaran