Pengertian, cara menyusun latar belakang masalah, cara mengidentifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan masalah:
A. Masalah PenelitianMasalah adalah penyimpangan antara yang diharapkan dengan
kejadian atau kenyataan dan harus dapat diselesaikan. Masalah
timbul karena adanya tantangan, adanya kesangsian ataupun
kebingungan kita terhadap suatu hal atau fenomena, adanya
kemenduan arti (ambiguity), adanya halangan atau rintangan,
adanya celah (gap) baik antar kegiatan atau antar fenomena (M.
Iqbal Hasan, 2002:38). Di dalam permasalahan ini, diungkapkan
keresahan, kesulitan, dilema, ada sesuatu yang kurang beres, ada
penjelasan yang kurang meyakinkan, ada keraguan tentang ide
dan pemikiran atau yang lainnya.
Dalam kehidupan manusia, masalah tidak pernah selesai dalam
pengertian sebenarnya. Ia datang dan pergi silih berganti
menjadi bagian dari kehidupan yang dijalaninya. Dari mulai
yang paling ringan sampai yang paling berat, dari mulai yang
kecil sampai masalah yang besar, manusia harus
menghadapinya sebagai bagian dari realitas duniawi. Berbagai
cara dan pendekatan dilakukan untuk menghadapi masalah
tersebut sesuai dengan jenis masalahnya, salah satunya melalui
penelitian. Apabila penyelesaian masalah menggunakan cara
dan pendekatan ilmiah dengan menterapkan prosedur ilmiah,
itulah yang dimaksud dengan masalah penelitian.
Tidak semua masalah yang dihadapi manusia merupakan
masalah penelitian. Masalah penelitian adalah masalah yang
menjadi objek suatu penelitian. Menurut Lincoln dan Guba
(1985), yang disebut masalah penelitian adalah suatu keadaan
yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang
menghasilkan situasi yang membingungkan. Masalah penelitian
dipelajari, dikaji, dipecahkan atau diselesaikan, lalu dibuat
kesimpulannya
Dalam suatu penelitian, yang dapat dikategorikan sebagai
masalah antara lain sebagai berikut.
a. Kesenjangan antara cita dan fakta atau yang normatif
idealistik dengan yang historis sosiologis.
b. Sesuatu yang unik, yang menyebar dari mainstream yang
ada.
c. Sesuatu yang belum diketahui terutama oleh masyarakat luas
terhadap suatu masalah yang penting.
d. Sesuatu yang luar biasa, dan apabila diteliti akan
mengandung banyak keutamaan dan pengetahuan (Imam
Suprayogo, 2001:32)
Masalah penelitian dapat muncul dan bersumber dari kehidupan
keseharian manusia yang dijumpainya, dan karena rasa ingin
tahunya mendorong manusia untuk melakukan penelitian. Hasil
pengamatan terhadap apa yang ditemukan manusia adalah inti
sumber masalah penelitian. Nazir (1983:140) mengemukakan
beberapa sumber dimana masalah diperoleh, di antaranya
adalah hasil bacaan, perluasan penelitian, cabang studi yang
sedang dikembangkan, praktik serta keinginan masyarakat,
analisis bidang pengetahuan, diskusi-diskusi ilmiah, bahkan
perasaan dan intuisi.
B. Ciri-ciri Masalah Penelitian
Dalam memilih masalah penelitian yang tepat dan baik, ada
beberapa hal yang harus diperhatikan. Kerlinger mengemukakan, ada tiga kriteria yang dipergunakan. Pertama, masalah itu
harus mengungkapkan suatu hubungan antara dua variabel atau
lebih. Kedua, masalah harus dinyatakan secara jelas (tidak
ambigu dalam bentuk pertanyaan). Ketiga -biasanya sulit
dipenuhi- masalah harus dirumuskan dengan cara tertentu yang
mensyaratkan adanya kemungkinan pengujian empiris
Suharsimi (1999:27) mengemukakan bahwa ada empat hal yang
harus dipenuhi bagi terpilihnya masalah atau judul penelitian,
yaitu harus sesuai dengan minat peneliti, harus dapat dilaksanakan,
harus tersedia faktor pendukung, dan harus bermanfaat.
Nazir (1983:
134-139) menyebutkan bahwa ciri-ciri masalah yang baik adalah
sebagai berikut.
1. Masalah yang dipilih harus mempunyai nilai penelitian, yakni:
(a) masalah harus mempunyai keaslian, dalam hal ini
menyangkut hal-hal yang up to date dan baru, mempunyai
nilai ilmiah atau aplikasi ilmiah, tidak berisi hal-hal yang
sepele; (b) masalah harus menyatakan suatu hubungan; (c)
masalah harus merupakan hal yang penting, dalam hal ini
harus mempunyai arti dan nilai, baik dalam bidang ilmunya
sendiri maupun dalam bidang aplikasi untuk penelitian
terapan; (d) masalah harus dapat diuji dengan perlakuanperlakuan serta data dan fasilitas yang ada. Sekurangkurangnya, memberikan implikasi untuk kemungkinan pengujian secara empiris; dan (e) masalah harus dapat dinyatakan
dalam bentuk pertanyaan yang jelas dan tidak membingungkan.
2. Masalah yang dipilih harus mempunyai fisibilitas, yakni: (a) Data
dan metode untuk memecahkan masalah harus tersedia; (b)
Biaya untuk memecahkan masalah, secara relatif harus
dalam batas-batas kemampuan; (c) Waktu untuk
memecahkan masalah harus wajar; (d) Biaya yang
dikeluarkan dengan hasil yang dicapai, minimal harus
seimbang; (e) Administrasi dan sponsor harus kuat; (f) Tidak
bertentangan dengan hukum dan adat.
3. Masalah yang dipilih harus sesuai dengan kualifikasi si peneliti,
yakni: (a) Menarik bagi peneliti, dalam hal ini menarik
keingin-tahuan peneliti dan memberi harapan untuk
menemukan jawaban ataupun menemukan masalah lain
yang lebih penting dan lebih menarik; (b) Cocok denga
kualifikasi peneliti, dalam hal ini masalah yang harus
dipecahkan sesuai dengan derajat keilmiahan yang dipunyai
peneliti, atau minimal cocok dengan bidang kemampuannya.
Dalam memilih masalah penelitian hendaklah dipertimbangkan
empat relevansi. Pertama, relevansi akademik. Jenis dan bobot
masalah hendaklah disesuaikan dengan jenis dan jenjang
akademik, seperti skripsi, tesis, dan disertasi; dan jenis penelitian
seperti penelitian murni (dasar), penelitian pesanan dan
penelitian terapan. Kedua, relevansi institusional. Substansi
permasalahan hendaklah disesuaikan dengan misi, visi dan
tujuan kepada lembaga mana penelitian ditujukan. Penelitian
untuk mencapai gelar akademik tertentu hendaknya relevan
dengan konsentrasi atau jurusan yang dipilih peneliti di lembaga
tersebut. Demikian juga untuk penelitian terapan. Ketiga,
relevansi sosial. Permasalahan yang dipilih hendaklah
bermanfaat bagi masyarakat yang berkepentingan dengan
permasalahan bidang yang dimaksud (komunitas ilmiah).
Keempat, relevansi personal. Permasalahan yang dimaksud
hendaklah mempertimbangkan keahlian, ketertarikan (interest),
keterjangkauan, waktu, tenaga, biaya yang dimiliki peneliti
(Imam Suproyogo (2001:35).
Judul Penelitian, Latar Belakang, Rumusan Masalah, dan Tujuan Penelitian
Setelah peneliti mempertimbangkan banyak hal berkenaan dengan memilih dan menentukan masalah yang researcable, langkah selanjutnya peneliti menuangkan hasil pertimbangan tersebut dalam format judul penelitian, latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian. Judul penelitian merupakan identitas atau cermin jiwa dari sebuah penelitian. Judul penelitian pada wujudnya merupakan kalimat, dan hanya satu kalimat pernyataan (bukan kalimat pertanyaan), yang terdiri dari kata-kata yang kongkrit (bukan umum), jelas (tidak kabur), singkat (tidak bertele-tele), tidak puitis. Judul penelitian ditulis dalam kalimat yang jelas, lugas, dan menarik, serta mencerminkan isinya, baik deskriptif, eksplanatif ataupun prediktif. Dalam penelitian kuantitatif, judul penelitian biasanya menunjukkan tentang hubungan antar variabel atau peubah (Cik Hasan Bisri, 1999:20). Di samping itu, judul penelitian dapat juga ditulis dalam kalimat dengan makna simbolik, selanjutnya diikuti penjelasannya.
Judul penelitian hendaknya bersifat menjelaskan dan menarik. Dengan membaca judul ini, maka orang langsung dapat menduga apa materi atau masalahnya serta kaitan aspek lainnya. Selain itu, dapat pula diketahui mengenai obyek, metode, tujuan dan kegunaan penelitian. Dengan demikian, judul penelitian ini pada hakekatnya merupakan gambaran dari conceptual framework suatu penelitian (M. Iqbal Hasan, 2002:42). Fungsi utama dari judul penelitian bagi peneliti adalah sebagai kompas dalam melakukan penelitian dan atau menyusun tulisannya. Sedangkan bagi pembaca, fungsi utama judul penelitian ini adalah menunjukkan hakikat daripada obyek penelitian, wilayahnya serta metode yang dipergunakan dalam melakukan penelitian atau menyusun tulisan. Secara garis besar, menurut Suharsimi Arikunto(1998:28) peneliti mempermasalahkan 3 (tiga) jenis fenomena atau gejala yang akan menjadi dasar dalam merumuskan judul penelitian yakni sebagai berikut: 1. Problema untuk mengetahui status dan mendeskripsikan fenomena. Sehubungan dengan jenis permasalahan ini terjadilah penelitian deskriptif, penelitian historis dan filosofis. Apabila peneliti bermaksud mengetahui keadaan sesuatu mengenai apa dan bagaimana, berapa banyak, sejauh mana, dan sebagainya, maka penelitiannya bersifat deskriptif, yaitu menjelaskan atau menerangkan peristiwa. Format judul penelitian: Studi deskriptif tentang …; Penelitian tentang pendapat ... 2. Problema untuk membandingkan dua fenomena atau lebih (problema komparasi). Dalam penelitian ini peneliti berusaha mencari persamaan dan perbedaan fenomena, selanjutnya mencari arti atau manfaat dari adanya persamaan dan perbedaan yang ada. Dalam melakukan perbandingan, peneliti selalu memandang dua fenomena atau lebih, ditinjau dari perbedaan atau persamaan yang ada. Namun, yang sering terjadi, peneliti membandingkan dua fenomena yang terjadi terhadap suatu standar. Penelitian ini bersifat komparatif, artinya membandingkan dua atau lebih fenomena. Format judul penelitian: Penelitian komparasi antara ... dengan ... 3. Problema untuk mencari hubungan antara dua fenomena (problema korelasi). Penelitian hubungan atau pengaruh, lebih dikenal dengan istilah penelitian korelasi yang memiliki dua jenis, yaitu sebagai berikut: a. Korelasi sejajar, menyangkut penelitian tentang dua hal atau lebih yang tidak mempunyai hubungan sebab akibat, tetapi dapat dicari alasan mengapa diperkirakan ada hubungannya. Format judul penelitian: Korelasi antara … dengan ....... b. Korelasi sebab akibat, menyangkut penelitian tentang dua hal atau lebih yang saling memiliki pengaruh. Antara keadaan yang satu dengan lainnya terdapat hubungan sebab akibat. Keadaan pertama diperkirakan menjadi penyebab keadaan yang kedua. Keadaan pertama berpengaruh pada keadaan kedua. Format judul penelitian: Pengaruh ... terhadap ...... Dalam sebuah rumusan judul penelitian, diharapkan mencakup unsur-unsur: (1) sifat dan jenis penelitian; (2) objek yang diteliti; (3) subjek penelitian; (4) lokasi/daerah waktu penelitian; dan (5) tahun/waktu terjadinya peristiwa.
Setelah menentukan judul penelitian, langkah selanjutnya adalah merumuskan latar belakang masalah dari judul tersebut. Latar belakang masalah berisi uraian mengenai keadaan berbagai gejala yang memperlihatkan adanya suatu masalah. Seseorang akan melakukan penelitian apabila dia menghadapi masalah tertentu yang harus dipecahkan (diselesaikan). Dalam kaitan ini yang menjadi persoalan adalah dari mana masalah ini bisa diperoleh dan apa yang menyebabkan timbulnya masalah tersebut. Latar belakang masalah bertolak dari adanya perhatian dan ketertarikan hati terhadap sesuatu yang disinyalir mengandung masalah. Sesuatu itu diangkat dari pengalaman kehidupan sehari-hari atau dari pergulatan pemikiran dalam dunia ilmiah.
Latar belakang masalah secara sistematik merupakan argumentasi-argumentasi yang disuguhkan sebagai latar dari masalah itu sendiri. Paparan dilakukan baik bersumber dari hasil studi pendahuluan lapangan ataupun eksplorasi literatur. Signifikansi penelitian diuraikan menjadi dasar ketertarikan peneliti untuk melakukan penelitian. Substansi latar belakang masalah terletak pada penyajian fenomena-fenomena yang diindikasikan mengandung masalah, atau penyajian sejumlah asumsi yang disinyalir bertentangan atau mengandung kontradiksi dalam bentuk pernyataan-pernyataan yang sistematis. Cik Hasan Bisri (1999:23) dalam hal ini mengemukakan bahwa pengungkapan pernyataan-pernyataan tersebut dilakukan secara deduktif, berawal dari yang bersifat umum dan berakhir pada pernyataan yang bersifat khusus. Keseluruhan paparan pernyataan dalam latar belakang masalah mengkerucut pada kesimpulan bahwa penting dilakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih tersebut.
Setelah ditentukan judul penelitian dan latar belakang masalah, langkah selanjutnya adalah menentukan rumusan masalah. Rumusan masalah dapat dikemukakan dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk pertanyaan penelitian. Namun, pada umumnya rumusan dalam bentuk pertanyaan lebih banyak digunakan, karena lebih jelas apa yang akan dijawab melalui penelitian yang bersangkutan. Dalam merumuskan masalah penelitian, beberapa penelitian menggunakan format keduanya, yakni menggunakan pernyataan dan pertanyaan. Pernyataan penelitian digunakan untuk mendeskripsikan dan menegaskan rumusan umum dari penelitian dimaksud, sedangkan pertanyaan penelitian digunakan untuk merinci aspek-aspek yang terkandung dalam rumusan umum tersebut.
Dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan studi korelasi dan studi pengaruh, biasanya pertanyaan penelitian diajukan dalam pola sederhana sebagai berikut: (1) Bagaimana realitas variabel X; (2) Bagaimana realitas variabel Y; dan (3) Bagaimana hubungan/korelasi/pengaruh antara variabel X dan atau ter-hadap variabel Y?. Sedangkan dalam penelitian jenis lainnya, kecermatan dan kedalaman studi pendahuluan sangat menentukan seberapa banyak aspek pertanyaan penelitian yang dapat diidentifikasi oleh peneliti. Harus dipahami bahwa semakin jelas dan terrinci identifikasi masalah yang diajukan dalam bentuk rumusan masalah, maka akan semakin terfokus arah penelitian yang dilakukan. Dalam tahap perumusan masalah penelitian, peneliti juga harus menjelaskan beberapa istilah kunci yang terdapat dalam judul penelitian. Penjelasan tersebut yang diistilahkan dengan ‘definisi operasional’ atau ‘definisi kerja’ yang akan sangat membantu penelitian yang dilakukan.
Langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan penelitian. Tujuan penelitian adalah rumusan kalimat yang menunjukkan adanya sesuatu yang akan diperoleh setelah penelitian selesai dilakukan. Tujuan penelitian dirumuskan dengan merujuk pada rumusan masalah penelitian. Jika biasanya rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk pertanyaan, maka tujuan penelitian diungkapkan dengan menggunakan kalimat aktif atau pasif dengan didahului kata pembuka seperti untuk menemukan, untuk mengetahui, untuk membandingkan, agar dapat diketahui, agar dapat dibandingkan dan lain sebagainya. Tujuan penelitian dirumuskan sebagai tujuan khusus yang hanya menjawab rumusan masalah penelitian. Apabila peneliti memandang ada tujuan lain, peneliti dapat mengungkapkannya pada bagian manfaat dan kegunaan penelitian yang isinya diarahkan pada tujuan umum penelitian.
SUMBER;
Tedi Priatna, Prosedur Penelitian Pendidikan, (Bnadung:CV. Insan Mandiri, 2017)
Komentar
Posting Komentar