Cerpen : Takdir Yang Berbisik

Takdir Yang Berbisik karya : Fika Zahrotul Rofi'ah Fajar masih menggantung di ufuk timur kala Liona mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah mungil di sudut kampung. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Mentari mulai menampakkan diri, menyorotkan sinarnya yang menyengat. Namun itu tak menghalau Liona untuk terus melangkah. Pekerjaannya di kota sebagai seorang pembantu rumah tangga tak memungkinkannya memiliki waktu luang.  Saat Liona memasuki area perkotaan yang semakin padat, kedengaran dengungan hiruk-pikuk aktivitas manusia. Klakson mobil bersahutan, deru mesin kendaraan bermotor mengiringi setiap tapak kakinya. Liona menghela napas panjang. Ia telah terbiasa dengan semua itu.  Sesampainya di sebuah rumah mewah bergaya modern, Liona mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita setengah baya membukakan pintu untuknya. Senyum sumringah menghiasi wajah wanita itu. "Selamat pagi, Non. Seperti biasa, Liona akan membersihkan rumah dulu." Begitulah awal har...

Fikih Muamalah

 Fikih Muamalah

A. Konsep Dasar Fiqih Muamalah
Kata fiqih berasal dari kata arab al-fiqh berarti mengerti, tahu atau paham. Sedangkan menurut istilah, fiqih dipakai dalam dua arti: dalam arti ilmu hukum (jusiprudence) dan dalam arti hukum itu sendiri (law). Dalam arti pertama, fiqih adalah ilmu hukum islam, yaitu suatu cabang studi yang mengkaji norma-norma syariah dalam kaitannya dengan tingkah laku konkret manusia. Dalam pengertian kedua, fiqih adalah hukum Islam itu sendiri, yaitu kumpulan norma-norma atau hukum- hukum syara‟ yang mengatur tingkah laku manusia, baik hukum-hukum itu ditetapkan langsung di dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW maupun yang merupakan hasil ijtihad, yaitu interpretasi dan penjabaran oleh para ahli hukum Islam (fuqaha) terhadap kedua sumber tersebut. Hal ini berbeda dengan syariah yang berarti jalan yang digariskan Tuhan menuju kepada keselamatan atau lebih tepatnya jalan menuju Tuhan. Syariah digunakan dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas syariah dimaksudkan sebagai keseluruhan ajaran agama dan norma-norma yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang mengatur kehidupan manusia baik dalam aspek kepercayaannya maupun dalam aspek tingkah laku praktisnya. Singkatnya syariah adalah ajaran-ajaran agama Islam itu sendiri, yang dibedakan menjadi dua aspek: ajaran tentang kepercayaan (akidah) dan ajaran tentang tingkah laku (amaliah). Dalam hal ini, syariah dalam arti luas identik dengan asy-syar‟ (syarak) dan ad-din (agama Islam). Dalam arti sempit, syariah merujuk kepada aspek praktis (amaliah) dari syariah dalam arti luas, yaitu aspek yang berupa kumpulan ajaran atau norma yang mengatur tingkah laku konkret manusia. Syariah dalam arti sempit inilah yang lazimnya di identikkan dan diterjemahkan sebagai hukum islam. Hanya saja, syariah dalam arti sempit ini lebih luas dari sekedar hukum pada umumnya, karena syariah dalam arti sempit tidak saja meliputi norma hukum itu sendiri, tetapi juga norma etika atau kesusilaan, norma sosial dan norma keagamaan seperti ibadah yang diajarkan Islam. Adapun Kata Muamalah berasal dari bahasa arab diambil dari kata (العمل (yang merupakan kata umum untuk semua perbuatan yang dikehendaki mukallaf. Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang dilakukan oleh seseorang dengan seseorang atau beberapa orang dalam memenuhi kebutuhan masing-masing. Sedangkan Fiqih Muamalah secara terminologi didefinisikan sebagai hukum-hukum yang berkaitan dengan tindakan hukum manusia dalam persoalan-persoalan keduniaan. Misalnya dalam persoalan jual beli, hutang-piutang, kerjasama dagang, perserikatan, kerjasama dalam penggarapan tanah, sewa-menyewa dan lain-lain. Muamalah adalah hubungan antara manusia dalam usaha mendapatkan alat-alat kebutuhan jasmaniah dengan cara sebaik-baiknya sesuai dengan ajaran-ajaran dan tuntutan agama. Agama Islam memberikan norma dan etika yang bersifat wajar dalam usaha mencari kekayaan untuk memberi kesempatan pada perkembangan hidup manusia di bidang muamalah dikemudian hari. Islam juga memberikan tuntutan supaya perkembangan itu jangan sampai menimbulkan kesempitan-kesempitan salah satu pihak dan kebebasan yang tidak semestinya kepada pihak lain. Sedangkan Hukum Muamalah adalah hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban dalam masyarakat untuk mencapai Hukum
Islam, meliputi hutang-piutang, sewa-menyewa, jual beli dan lain sebagainya. Dengan kata lain masalah muamalah ini diatur dengan sebaik-baiknya agar manusia dapat memenuhi kebutuhan tanpa memberikan mudhorat kepada orang lain.10 Adapun yang termasuk dalam muamalah antara lain tukar-menukar barang, jual beli, pinjam- meminjam, upah kerja, serikat dalam kerja dan lain-lain. Dari definisi di atas dapat dipahami Fiqih Muamalah adalah pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum- hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil Islam secara rinci. Sehingga Fiqih Muamalah adalah keseluruhan kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum- hukum Islam yang berupa peraturan-peraturan yang berisi perintah atau larangan seperti wajib, sunah, haram, makruh dan mubah. Hukum-hukum fiqih terdiri dari hukum-hukum yang menyangkut urusan Ibadah dalam kaitannya dengan hubungan vertikal antara manusia dengan Allah dan urusan muamalah dalam kaitannya dengan hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya.


B. Pinsip Dasar Fiqih Muamalah
1. Hukum asal dalam Muamalah adalah mubah (diperbolehkan) Ulama fiqih sepakat bahwa hukum asal dalam transaksi muamalah adalah diperbolehkan (mubah), kecuali terdapat nash yang melarangnya. Dengan demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa sebuah transaksi itu dilarang sepanjang belum/tidak ditemukan nash yang secara sharih melarangnya. Berbeda dengan ibadah, hukum asalnya adalah dilarang. Kita tidak bisa melakukan sebuah ibadah jika memang tidak ditemukan nash yang memerintahkannya, ibadah kepada Allah tidak bisa dilakukan jika tidak terdapat syariat darinya. Kaidah yang dasar dan paling utama yang menjadi landasan kegiatan muamalah adalah kaidah : 
 األطو فٜ اىَؼبٍالد اإلثبؽخ ؽزٚ ٝله كىٞو ػيٚ فالفٔ. 
 “Hukum dasar Muamalah adalah diperbolehkan, smapai ada dalil yang melarangnya”
Prinsip ini menjadi kesepakatan dikalangan ulama. Prinsip ini memeberikan kebebasan yang sangat luas kepada manusia untuk mengembangkan model transaksi dan produk-produk akad dalam bermuamalah. Namun demikian, kebebasan bukan kebebasan tanpa batas, akan tetapi dibatasi oleh aturan syariat yang telah ditetapan dalam al-Quran dan as-Sunnah. Landasan prinsip tersebut antara lain adalah sebagai berikut: a. Firman Allah SWT al-Maidah ayat 1 ِبىْؼُقُِ٘ك ْٗفُ٘اْ ث َ ِنٝ َِ آ ٍَُْ٘اْ أ ُّٝ َٖب اىَّ َ َٝب أ “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.” b. Firman Allah SWT al-Isra ayat 34 َُّ اىْؼَ ْٖ َل َمب َُ ٍَ َْ ُئٗلا ِ ِبىْؼَ ِْٖل ا ْٗفُ٘اْ ث َ َٗأ “Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya” c. Firman Allah SWT al-An‟am ayat 145 َّٜ ِىَ ْٗ ِؽ َٜ ا ُ ِع ُل فِٜ ٍَب أ َ ق ْٗ َكاٍب ُو لَّ أ َ أ َُ َٝ ُن٘ َُ ٍَ ْٞزَخا ِلَّ أ ٍُ َؾ َّو اٍب َػَيٚ َؽب ِػٌٍ َٝ ْطؼَ َُُٔ ا ِه ْع ٌ ِبَُّّٔ ْؾ ٌَ ِفِْيٍٝو فَ ْٗ ىَ َ ٍَّ َْفُ٘ اؽب أ “Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor”

Dalam dalil-dalil tersebut mengindikasikan bahwa Allah memberikan kebebasan dan kelenturan dalam kegiatan muamalah, selain itu syariah juga mampu mengakomodir transaksi modern yang berkembang.

2. Sukarela, tanpa mengandung unsur-unsur paksaan. َو ٍع َػ ِْ رَ ُْ رَ ُنْ٘ َُ رِ َغب َهحا َ َّل أ ِ ِبىْجَب ِؽ ِو ا ُنٌْ ث ُنٌْ َثَْْٞ ٍْ َ٘اىَ َ ْ٘ا أ ُميُ ْ ْ٘ا َل رَؤ ٍِ ْْ ُنٌْ َٗ َل ِنْٝ َِ آ ٍَُْ ٝآُّٝ َٖب اىَّ َُّ ِ ََ ُنٌْ ا َ ّْفُ ُنٌْ َه ِؽْٞ اَب. ْ٘ا أ ِ رَ ْقزُيُ هللاَ َمب َُ ث “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri kamu sekalian, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa‟: 29) 

 3. Mendatangkan manfaat dan menghindari mudharat dalam bermasyarakat. ُْ لَ َػَو َه َٗلَ َ َؼٚ أ ٌَ قَ َُّ َه ٍُ ْ٘ َه هللاِ َطَّيٚ هللاُ َػَي ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ َ ِِ َطب ٍِ ِذ أ َه َػ ِْ ُػجبََكحَ . ا ْث ِػَو - ا هٗآ أؽَل ٗاثِ ٍبعخ “Dari Ubadah bin Shamit; bahwasanya Rasulullah saw menetapkan tidak boleh berbuat kemudharatan dan tidak boleh pula membalas kemudharatan”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
4. Memelihara nilai-nilai keadilan, menghindari unsur-unsur penganiayaan ٍْ َ٘اِى ُنٌْ لَ رَ ْظ َ ُنٌْ ُه ُإ ْٗ ًُ أ يَ ٌْ فَ ْجزُ ُْ رُ ِ ِ َؾ ْو ٍة ٍِ َِ هللاِ َٗ َه ٍُ ِْ٘ى ِٔ َٗا ْ٘ا ث ُّ مَ ْ ؤ ْ٘ا فَ ٌْ رَ ْفؼَيُ ِب ُْ ىَ ف ِي َُ ْ٘ َُ َٗلَ َ َُ ْ٘ َُ رُ . ْظيَ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari mengambil riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah: 279)

5. Saddu Al-Dzari‟ah Saddu Al-Dzari‟ah adalah menghambat segala sesuatu yang menjadi jalan kerusakan. Dzari‟ah adalah washilah (jalan) yang menyampaikan kepada tujuan, baik yang halal ataupun yang haram. Maka jalan/cara yang menyampaikan kepada yang haram hukumnya pun haram, jalan/cara yang menyampaikan kepada yang halal hukumnya pun halal serta jalan/cara yang menyampaikan kepada sesuatu yang wajib maka hukumnya pun wajib.

6. Larangan Ihtikar Ihtikar atau monopoli artinya menimbun barang agar yang beredar di masyarakat berkurang, lalu harganya naik. Yang menimbun memperoleh keuntungan besar, sedang masyarakat dirugikan Islam melaknat praktik penimbunan (ikhtikar), karena hal ini berpotensi menimbulkan kenaikan harga barang yang ditanggung oleh konsumen. 

7. Larangan gharar Dalam sistem jual beli gharar ini terdapat unsur memakan harta orang lain dengan cara batil. Padahal Allah melarang memakan harta orang lain dengan cara batil sebagaimana tersebut dalam firmanNya. ََٗل ِه اىَّْ ٍْ َ٘ا َ ِوٝقاب ٍِ ِْ أ ُميُ٘ا فَ ْ ُؾ َّنبًِ ِىزَؤ ِىَٚ اىْ ِ َٖب ا ِبىْجَب ِؽ ِو َٗرُ ْلىُ٘ا ث ُنٌْ ث ُنٌْ ثَ َْْٞ ٍْ َ٘اىَ َ ُميُ٘ا أ رَؤ ب ًِ ْ َُ َُ٘ ْؼيَ ٌْ رَ َ ّْزُ ٌِ َٗأ ِبْإلِصْ ث “Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [Al- Baqarah / 2 : 188] ِنٝ َِ آ ٍَُْ٘ا ُّٝ َٖب اىَّ َوا ٍع ٍِ ْْ ُنٌْ َ َػ ِْ رَ َٝب أ ُْ رَ ُن٘ َُ رِ َغب َهحا َ َّل أ ِ َجب ِؽ ِو ا ِبىْ ُنٌْ ث ُنٌْ ثَ َْْٞ ٍْ َ٘اىَ َ ُميُ٘ا أ ْ َل رَؤ ََ ُنٌْ َ ّْفُ ُن َٗ ٌْ َه ِؽٞ اَب َل رَ ْقزُيُ٘ا أ ِ َمب َُ ث َُّ ََّّللاَ ِ ا “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [An-Nisaa
/4 : 29]

8. Larangan Maisir Maisir (Judi) dalam terminologi agama diartikan sebagai “suatu transaksi yang dilakukan oleh dua pihak untuk kepemilikan suatu benda atau jasa yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain. Sehingga Allah menurunkan Ayat Al-Qur'an Tentang Larangan Judi . ْمجَ ُو ٍِ ِْ َ َُ ُٖ ََب أ ِصْ ِٞ و َٗ ٍََْبفِ ُغ ِىيَّْب ًِ َٗا ٌ َمج ِصْ ِٖ ََب ا ْو ِفٞ ۖ قُ ََ ْٞ َِِو ىَُّ٘ َل َػ ِِ اىْ َق َِْو َٗاىْ َ َٝ َْؤ ُنٌْ رَ ُنٌُ اَْٟٝب ِد ىَؼَيَّ ُِ ََّّللاُ ىَ ِ ِى َل ُٝجَّٞ َٰ ۗ َمنَ ْفَ٘ ِو اىْؼَ ِْْفقُ٘ َُ قُ ا ُٝ ىَُّ٘ َل ٍَبمَ َ ِٖ ََبۗ ََٗٝ َْؤ َّنُوٗ َُ ” ِؼ َّ ْف زَفَ Mereka bertanya kepadamu tentang khamardan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,” (QS. Al-Baqarah : 219) [136] 9. Larangan Riba Riba adalah suatu akad atau transaksi atas barang yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut syariat atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad atau salah satunya. Islam melarang perbuatan riba. Sebagaimana hadits- hadits berikut : ِْٜ َػْج ُل اى َّو ْؽ ََ ِِ ْث ُِ َػْجِل ََّّللاِ َْب ٍِ ََب ك، َؽَّلصَ ٌَ، َؽَّلصََْب ُى َٕ ْٞ و، َؽَّلصَ ْؽ ََ ُل ْث ُِ ُُّٝ٘ َ َْب أ ِِ َؽَّلصَ ْث ب َه: ىَؼَ َِ َه ٍُ٘ ُه ََّّللاِ َطَّيٚ هللاُ ِٞ ِٔ، قَ ث َ َٗ َشب ِٕ َل ٍَ َْؼٍُ٘ك، َػ ِْ أ ُٓ ِّوثَب، َٗ ٍُ ْئ ِمئَُ ٌَ آِم َو اى ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ َػيَ َٗ َمبرِجَُٔ 
 Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair, telah menceritakan kepada kami Simak, telah menceritakan kepadaku
Abdurrahman bin Abdullah bin Mas‟ud, dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah shallallahu „alaihi wasallam melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi makan riba, saksinya dan penulisnya.(HR. Abu Dawud) ْٞ َػيَ َطيَّٚ ََّّللاُ ِّٜ ِ ِْ اىَّْج َػْْ ُٖؼَ َه ِػ َٜ ََّّللاُ َو ْٝ َوحَ ُٕ ِٜ ث َػ ِْ أ ب ِد َ ِقَ َُ٘ث ب َه ا ْعزَِْجُ٘ا اى ََّْج َغ اىْ ٌَ قَ ِٔ َٗ ٍَيَّ َّل ِ ا ُو اىَّْ ْف ٌِ اىَّزِٜ َؽ َّو ًَ ََّّللاُ زْ ِب ََّّللِ َٗاى َِّ ْؾ ُو َٗقَ ب َه اى ِّش ْو ُك ث بىُ٘ا َٝب َه ٍُ٘ َه ََِّّللا َٗ ٍَب ُٕ َِّ قَ قَ َؾ ّ ِِ ِبىْ ث ْ٘ َٝ ِٜ َ٘ىّ ِه اىَْٞزٌِِٞ َٗاىزَّ ْم ُو ٍَب َ ِّوثَب َٗأ ْم ُو اى َُ ْئ ٍَِْب ِد اىْغَب ِفَال َٗأ ِد َ َُ ْؾ َظَْب ِد اىْ ُف اىْ ًَ اى َّي ْؽ ِف َٗقَنْ Dari Abu Hurairah radliallahu „anhu dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba, makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang wanita mu‟min yang suci berbuat zina”. (Bukhari, Bab Ramyul Muhsanat, No. 6351) َّل َمب َُ َػب ِ ِّوثَب ا َو ٍِ ِْ اى ْمضَ َ َؽ ل أ َ ب َه ٍَب أ ٌَ قَ ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ َػيَ َطيَّٚ ََّّللاُ ِّٜ ِ ِِ ٍَ َْؼٍُ٘ك َػ ِْ اىَّْج ػ ِْ ا ْث قِجَخُ ٍخ ِىَٚ قِيَّ ٍِْو ِٓ ا َ أ Dari Ibnu Mas‟ud dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seseorang yang memperbanyak riba, melainkan akhir perkaranya akan merugi (Ibn Majah, bab Taglidh fir riba, no 2270). ٌَ ِكْه ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ َػيَ ب َه َه ٍُ٘ ُه ََّّللاِ َطيَّٚ ََّّللاُ ب َه قَ َََالئِ َن ِخ قَ ِو اىْ َغ َِٞ ِِ َؽْْ َظيَخَ ٌ ِه َػ ِْ َػْجِل ََّّللاِ ْث ثاب َٕ َشُّل ٍِ ِْ ٍِزَّ ٍخ َٗصََالصِٞ َِ َى َّْٞخا َ ٌُ أ َ٘ َٝ ْؼيَ ُمئُُ اى َّو ُع ُو َُٕٗ ْ َٝؤ dari „Abdullah bin Hanzhalah, yang dimandikan oleh para malaikat, ia berkata; Rasulullah Shallallahu‟alaihi wasallam bersabda: “Satu dirham hasil riba yang dimakan seseorang sementara ia mengetahuinya, itu lebih buruk dari tigapuluh kali berzina.” (HR. Ahmad)


Sumber:
Syaikhu, dkk, Fikih Muamalah, (Palangkaraya: K-Media, 2020)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen : Takdir Yang Berbisik

DDPH; Hadis tentang lingkungan pendidikan (keluarga)

Media Pembelajaran: Konsep Dasar Media dan Media Pembelajaran