Fikih Muamalah
A. Konsep Dasar Fiqih MuamalahKata fiqih berasal dari kata arab al-fiqh berarti mengerti, tahu atau
paham. Sedangkan menurut istilah, fiqih dipakai dalam dua arti: dalam
arti ilmu hukum (jusiprudence) dan dalam arti hukum itu sendiri (law).
Dalam arti pertama, fiqih adalah ilmu hukum islam, yaitu suatu cabang
studi yang mengkaji norma-norma syariah dalam kaitannya dengan
tingkah laku konkret manusia. Dalam pengertian kedua, fiqih adalah
hukum Islam itu sendiri, yaitu kumpulan norma-norma atau hukum-
hukum syara‟ yang mengatur tingkah laku manusia, baik hukum-hukum
itu ditetapkan langsung di dalam Al-Qur‟an dan Sunnah Nabi
Muhammad SAW maupun yang merupakan hasil ijtihad, yaitu
interpretasi dan penjabaran oleh para ahli hukum Islam (fuqaha)
terhadap kedua sumber tersebut.
Hal ini berbeda dengan syariah yang berarti jalan yang digariskan
Tuhan menuju kepada keselamatan atau lebih tepatnya jalan menuju Tuhan.
Syariah digunakan dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti
luas syariah dimaksudkan sebagai keseluruhan ajaran agama dan
norma-norma yang dibawa Nabi Muhammad SAW yang mengatur
kehidupan manusia baik dalam aspek kepercayaannya maupun dalam
aspek tingkah laku praktisnya. Singkatnya syariah adalah ajaran-ajaran
agama Islam itu sendiri, yang dibedakan menjadi dua aspek: ajaran
tentang kepercayaan (akidah) dan ajaran tentang tingkah laku (amaliah).
Dalam hal ini, syariah dalam arti luas identik dengan asy-syar‟ (syarak)
dan ad-din (agama Islam). Dalam arti sempit, syariah merujuk kepada
aspek praktis (amaliah) dari syariah dalam arti luas, yaitu aspek yang
berupa kumpulan ajaran atau norma yang mengatur tingkah laku
konkret manusia. Syariah dalam arti sempit inilah yang lazimnya di
identikkan dan diterjemahkan sebagai hukum islam. Hanya saja, syariah
dalam arti sempit ini lebih luas dari sekedar hukum pada umumnya,
karena syariah dalam arti sempit tidak saja meliputi norma hukum itu
sendiri, tetapi juga norma etika atau kesusilaan, norma sosial dan
norma keagamaan seperti ibadah yang diajarkan Islam.
Adapun Kata Muamalah berasal dari bahasa arab diambil dari
kata (العمل (yang merupakan kata umum untuk semua perbuatan yang
dikehendaki mukallaf. Kata ini menggambarkan suatu aktivitas yang
dilakukan oleh seseorang dengan seseorang atau beberapa orang dalam
memenuhi kebutuhan masing-masing. Sedangkan Fiqih Muamalah
secara terminologi didefinisikan sebagai hukum-hukum yang berkaitan
dengan tindakan hukum manusia dalam persoalan-persoalan
keduniaan. Misalnya dalam persoalan jual beli, hutang-piutang,
kerjasama dagang, perserikatan, kerjasama dalam penggarapan tanah,
sewa-menyewa dan lain-lain.
Muamalah adalah hubungan antara manusia dalam usaha
mendapatkan alat-alat kebutuhan jasmaniah dengan cara sebaik-baiknya
sesuai dengan ajaran-ajaran dan tuntutan agama.
Agama Islam
memberikan norma dan etika yang bersifat wajar dalam usaha mencari
kekayaan untuk memberi kesempatan pada perkembangan hidup
manusia di bidang muamalah dikemudian hari. Islam juga memberikan
tuntutan supaya perkembangan itu jangan sampai menimbulkan
kesempitan-kesempitan salah satu pihak dan kebebasan yang tidak
semestinya kepada pihak lain.
Sedangkan Hukum Muamalah adalah hukum yang mengatur
tentang hak dan kewajiban dalam masyarakat untuk mencapai Hukum
Islam, meliputi hutang-piutang, sewa-menyewa, jual beli dan lain
sebagainya.
Dengan kata lain masalah muamalah ini diatur dengan
sebaik-baiknya agar manusia dapat memenuhi kebutuhan tanpa
memberikan mudhorat kepada orang lain.10 Adapun yang termasuk
dalam muamalah antara lain tukar-menukar barang, jual beli, pinjam-
meminjam, upah kerja, serikat dalam kerja dan lain-lain.
Dari definisi di atas dapat dipahami Fiqih Muamalah adalah
pengetahuan tentang kegiatan atau transaksi yang berdasarkan hukum-
hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam kehidupannya yang
diperoleh dari dalil-dalil Islam secara rinci. Sehingga Fiqih Muamalah
adalah keseluruhan kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum-
hukum Islam yang berupa peraturan-peraturan yang berisi perintah
atau larangan seperti wajib, sunah, haram, makruh dan mubah.
Hukum-hukum fiqih terdiri dari hukum-hukum yang menyangkut
urusan Ibadah dalam kaitannya dengan hubungan vertikal antara
manusia dengan Allah dan urusan muamalah dalam kaitannya dengan
hubungan horizontal antara manusia dengan manusia lainnya.
B. Pinsip Dasar Fiqih Muamalah
1. Hukum asal dalam Muamalah adalah mubah (diperbolehkan)
Ulama fiqih sepakat bahwa hukum asal dalam transaksi
muamalah adalah diperbolehkan (mubah), kecuali terdapat nash yang
melarangnya. Dengan demikian, kita tidak bisa mengatakan bahwa
sebuah transaksi itu dilarang sepanjang belum/tidak ditemukan nash
yang secara sharih melarangnya. Berbeda dengan ibadah, hukum
asalnya adalah dilarang. Kita tidak bisa melakukan sebuah ibadah jika
memang tidak ditemukan nash yang memerintahkannya, ibadah kepada
Allah tidak bisa dilakukan jika tidak terdapat syariat darinya.
Kaidah yang dasar dan paling utama yang menjadi landasan
kegiatan muamalah adalah kaidah :
األطو فٜ اىَؼبٍالد اإلثبؽخ ؽزٚ ٝله كىٞو ػيٚ فالفٔ.
“Hukum dasar Muamalah adalah diperbolehkan, smapai ada dalil yang
melarangnya”
Prinsip ini menjadi kesepakatan dikalangan ulama. Prinsip ini
memeberikan kebebasan yang sangat luas kepada manusia untuk
mengembangkan model transaksi dan produk-produk akad dalam
bermuamalah. Namun demikian, kebebasan bukan kebebasan tanpa
batas, akan tetapi dibatasi oleh aturan syariat yang telah ditetapan dalam
al-Quran dan as-Sunnah. Landasan prinsip tersebut antara lain adalah
sebagai berikut:
a. Firman Allah SWT al-Maidah ayat 1
ِبىْؼُقُِ٘ك
ْٗفُ٘اْ ث
َ
ِنٝ َِ آ ٍَُْ٘اْ أ
ُّٝ َٖب اىَّ
َ
َٝب أ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.”
b. Firman Allah SWT al-Isra ayat 34
َُّ اىْؼَ ْٖ َل َمب َُ ٍَ َْ ُئٗلا
ِ
ِبىْؼَ ِْٖل ا
ْٗفُ٘اْ ث
َ
َٗأ
“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan
jawabnya”
c. Firman Allah SWT al-An‟am ayat 145
َّٜ
ِىَ
ْٗ ِؽ َٜ ا
ُ
ِع ُل فِٜ ٍَب أ
َ
ق ْٗ َكاٍب ُو لَّ أ
َ
أ
َُ َٝ ُن٘ َُ ٍَ ْٞزَخا
ِلَّ أ
ٍُ َؾ َّو اٍب َػَيٚ َؽب ِػٌٍ َٝ ْطؼَ َُُٔ ا
ِه ْع ٌ
ِبَُّّٔ
ْؾ ٌَ ِفِْيٍٝو فَ
ْٗ ىَ
َ
ٍَّ َْفُ٘ اؽب أ
“Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak
memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang
mengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu kotor”
Dalam dalil-dalil tersebut mengindikasikan bahwa Allah memberikan kebebasan dan kelenturan dalam kegiatan muamalah, selain itu syariah juga mampu mengakomodir transaksi modern yang berkembang.
2. Sukarela, tanpa mengandung unsur-unsur paksaan.
َو ٍع
َػ ِْ رَ
ُْ رَ ُنْ٘ َُ رِ َغب َهحا
َ
َّل أ
ِ
ِبىْجَب ِؽ ِو ا
ُنٌْ ث
ُنٌْ َثَْْٞ
ٍْ َ٘اىَ
َ
ْ٘ا أ
ُميُ
ْ
ْ٘ا َل رَؤ
ٍِ ْْ ُنٌْ َٗ َل ِنْٝ َِ آ ٍَُْ
ٝآُّٝ َٖب اىَّ
َُّ
ِ
ََ ُنٌْ ا
َ ّْفُ
ُنٌْ َه ِؽْٞ اَب. ْ٘ا أ
ِ رَ ْقزُيُ
هللاَ َمب َُ ث
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh diri
kamu sekalian, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu.” (QS.
An-Nisa‟: 29)
3. Mendatangkan manfaat dan menghindari mudharat dalam
bermasyarakat.
ُْ لَ َػَو َه َٗلَ
َ
َؼٚ أ
ٌَ قَ
َُّ َه ٍُ ْ٘ َه هللاِ َطَّيٚ هللاُ َػَي ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ
َ
ِِ َطب ٍِ ِذ أ
َه َػ ِْ ُػجبََكحَ . ا ْث
ِػَو - ا
هٗآ أؽَل ٗاثِ ٍبعخ
“Dari Ubadah bin Shamit; bahwasanya Rasulullah saw menetapkan tidak boleh
berbuat kemudharatan dan tidak boleh pula membalas kemudharatan”. (HR.
Ahmad dan Ibnu Majah)
4. Memelihara nilai-nilai keadilan, menghindari unsur-unsur
penganiayaan
ٍْ َ٘اِى ُنٌْ لَ رَ ْظ
َ
ُنٌْ ُه ُإ ْٗ ًُ أ
يَ
ٌْ فَ
ْجزُ
ُْ رُ
ِ
ِ َؾ ْو ٍة ٍِ َِ هللاِ َٗ َه ٍُ ِْ٘ى ِٔ َٗا
ْ٘ا ث
ُّ
مَ
ْ
ؤ
ْ٘ا فَ
ٌْ رَ ْفؼَيُ
ِب ُْ ىَ
ف ِي َُ ْ٘ َُ َٗلَ َ
َُ ْ٘ َُ
رُ . ْظيَ
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka
ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu
bertaubat (dari mengambil riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak
menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. (QS. Al-Baqarah: 279)
5. Saddu Al-Dzari‟ah
Saddu Al-Dzari‟ah adalah menghambat segala sesuatu yang
menjadi jalan kerusakan. Dzari‟ah adalah washilah (jalan) yang
menyampaikan kepada tujuan, baik yang halal ataupun yang haram.
Maka jalan/cara yang menyampaikan kepada yang haram hukumnya
pun haram, jalan/cara yang menyampaikan kepada yang halal
hukumnya pun halal serta jalan/cara yang menyampaikan kepada
sesuatu yang wajib maka hukumnya pun wajib.
6. Larangan Ihtikar
Ihtikar atau monopoli artinya menimbun barang agar yang
beredar di masyarakat berkurang, lalu harganya naik. Yang menimbun
memperoleh keuntungan besar, sedang masyarakat dirugikan Islam melaknat praktik penimbunan (ikhtikar), karena hal ini berpotensi
menimbulkan kenaikan harga barang yang ditanggung oleh konsumen.
7. Larangan gharar
Dalam sistem jual beli gharar ini terdapat unsur memakan harta
orang lain dengan cara batil. Padahal Allah melarang memakan harta
orang lain dengan cara batil sebagaimana tersebut dalam firmanNya.
ََٗل
ِه اىَّْ
ٍْ َ٘ا
َ
ِوٝقاب ٍِ ِْ أ
ُميُ٘ا فَ
ْ
ُؾ َّنبًِ ِىزَؤ
ِىَٚ اىْ
ِ َٖب ا
ِبىْجَب ِؽ ِو َٗرُ ْلىُ٘ا ث
ُنٌْ ث
ُنٌْ ثَ َْْٞ
ٍْ َ٘اىَ
َ
ُميُ٘ا أ
رَؤ ب ًِ ْ
َُ َُ٘
ْؼيَ
ٌْ رَ
َ ّْزُ
ٌِ َٗأ
ِبْإلِصْ
ث
“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara
kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu
kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda
orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui” [Al-
Baqarah / 2 : 188]
ِنٝ َِ آ ٍَُْ٘ا
ُّٝ َٖب اىَّ
َوا ٍع ٍِ ْْ ُنٌْ َ
َػ ِْ رَ
َٝب أ ُْ رَ ُن٘ َُ رِ َغب َهحا
َ
َّل أ
ِ
َجب ِؽ ِو ا
ِبىْ
ُنٌْ ث
ُنٌْ ثَ َْْٞ
ٍْ َ٘اىَ
َ
ُميُ٘ا أ
ْ
َل رَؤ
ََ ُنٌْ
َ ّْفُ
ُن َٗ ٌْ َه ِؽٞ اَب َل رَ ْقزُيُ٘ا أ
ِ
َمب َُ ث
َُّ ََّّللاَ
ِ
ا
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta
sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku
dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu ; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” [An-Nisaa
/4 : 29]
8. Larangan Maisir
Maisir (Judi) dalam terminologi agama diartikan sebagai “suatu
transaksi yang dilakukan oleh dua pihak untuk kepemilikan suatu benda
atau jasa yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.
Sehingga Allah menurunkan Ayat Al-Qur'an Tentang Larangan Judi
. ْمجَ ُو ٍِ ِْ
َ
َُ ُٖ ََب أ
ِصْ
ِٞ و َٗ ٍََْبفِ ُغ ِىيَّْب ًِ َٗا
ٌ َمج
ِصْ
ِٖ ََب ا
ْو ِفٞ
ۖ قُ
ََ ْٞ َِِو
ىَُّ٘ َل َػ ِِ اىْ َق َِْو َٗاىْ
َ
َٝ َْؤ
ُنٌْ رَ
ُنٌُ اَْٟٝب ِد ىَؼَيَّ
ُِ ََّّللاُ ىَ
ِ
ِى َل ُٝجَّٞ
َٰ
ۗ َمنَ
ْفَ٘
ِو اىْؼَ
ِْْفقُ٘ َُ قُ
ا ُٝ
ىَُّ٘ َل ٍَبمَ
َ
ِٖ ََبۗ ََٗٝ َْؤ
َّنُوٗ َُ ” ِؼ
َّ ْف زَفَ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamardan judi. Katakanlah: "Pada
keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi
dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya." Dan mereka bertanya kepadamu
apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: " Yang lebih dari keperluan."
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu
berfikir,” (QS. Al-Baqarah : 219) [136]
9. Larangan Riba
Riba adalah suatu akad atau transaksi atas barang yang ketika
akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut syariat atau
dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad
atau salah satunya. Islam melarang perbuatan riba. Sebagaimana hadits-
hadits berikut :
ِْٜ َػْج ُل اى َّو ْؽ ََ ِِ ْث ُِ َػْجِل ََّّللاِ
َْب ٍِ ََب ك، َؽَّلصَ
ٌَ، َؽَّلصََْب ُى َٕ ْٞ و، َؽَّلصَ
ْؽ ََ ُل ْث ُِ ُُّٝ٘
َ
َْب أ
ِِ َؽَّلصَ
ْث
ب َه: ىَؼَ َِ َه ٍُ٘ ُه ََّّللاِ َطَّيٚ هللاُ
ِٞ ِٔ، قَ
ث
َ
َٗ َشب ِٕ َل ٍَ َْؼٍُ٘ك، َػ ِْ أ ُٓ
ِّوثَب، َٗ ٍُ ْئ ِمئَُ
ٌَ آِم َو اى
ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ
َػيَ
َٗ َمبرِجَُٔ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami
Zuhair, telah menceritakan kepada kami Simak, telah menceritakan kepadaku
Abdurrahman bin Abdullah bin Mas‟ud, dari ayahnya, ia berkata; Rasulullah
shallallahu „alaihi wasallam melaknat orang yang makan riba, orang yang memberi
makan riba, saksinya dan penulisnya.(HR. Abu Dawud)
ْٞ
َػيَ
َطيَّٚ ََّّللاُ
ِّٜ ِ
ِْ اىَّْج
َػْْ ُٖؼَ
َه ِػ َٜ ََّّللاُ
َو ْٝ َوحَ
ُٕ ِٜ
ث
َػ ِْ أ ب ِد َ
ِقَ
َُ٘ث
ب َه ا ْعزَِْجُ٘ا اى ََّْج َغ اىْ
ٌَ قَ
ِٔ َٗ ٍَيَّ
َّل
ِ
ا
ُو اىَّْ ْف ٌِ اىَّزِٜ َؽ َّو ًَ ََّّللاُ
زْ
ِب ََّّللِ َٗاى َِّ ْؾ ُو َٗقَ
ب َه اى ِّش ْو ُك ث
بىُ٘ا َٝب َه ٍُ٘ َه ََِّّللا َٗ ٍَب ُٕ َِّ قَ
قَ
َؾ ّ ِِ
ِبىْ
ث
ْ٘ َٝ ِٜ
َ٘ىّ
ِه اىَْٞزٌِِٞ َٗاىزَّ
ْم ُو ٍَب
َ
ِّوثَب َٗأ
ْم ُو اى
َُ ْئ ٍَِْب ِد اىْغَب ِفَال َٗأ ِد َ
َُ ْؾ َظَْب ِد اىْ
ُف اىْ
ًَ اى َّي ْؽ ِف َٗقَنْ
Dari Abu Hurairah radliallahu „anhu dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam
bersabda: “Jauhilah tujuh perkara yang membinasakan”. Para sahabat bertanya:
“Wahai Rasulullah, apakah itu? Beliau bersabda: “Syirik kepada Allah, sihir,
membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, memakan riba,
makan harta anak yatim, kabur dari medan peperangan dan menuduh seorang
wanita mu‟min yang suci berbuat zina”. (Bukhari, Bab Ramyul Muhsanat, No.
6351)
َّل َمب َُ َػب
ِ
ِّوثَب ا
َو ٍِ ِْ اى
ْمضَ
َ
َؽ ل أ
َ
ب َه ٍَب أ
ٌَ قَ
ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ
َػيَ
َطيَّٚ ََّّللاُ
ِّٜ ِ
ِِ ٍَ َْؼٍُ٘ك َػ ِْ اىَّْج
ػ ِْ ا ْث قِجَخُ
ٍخ
ِىَٚ قِيَّ
ٍِْو ِٓ ا
َ
أ
Dari Ibnu Mas‟ud dari Nabi shallallahu „alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah
seseorang yang memperbanyak riba, melainkan akhir perkaranya akan merugi (Ibn
Majah, bab Taglidh fir riba, no 2270).
ٌَ ِكْه
ْٞ ِٔ َٗ ٍَيَّ
َػيَ
ب َه َه ٍُ٘ ُه ََّّللاِ َطيَّٚ ََّّللاُ
ب َه قَ
َََالئِ َن ِخ قَ
ِو اىْ
َغ َِٞ
ِِ َؽْْ َظيَخَ
ٌ ِه َػ ِْ َػْجِل ََّّللاِ ْث ثاب
َٕ
َشُّل ٍِ ِْ ٍِزَّ ٍخ َٗصََالصِٞ َِ َى َّْٞخا
َ
ٌُ أ
َ٘ َٝ ْؼيَ
ُمئُُ اى َّو ُع ُو َُٕٗ
ْ
َٝؤ
dari „Abdullah bin Hanzhalah, yang dimandikan oleh para malaikat, ia berkata;
Rasulullah Shallallahu‟alaihi wasallam bersabda: “Satu dirham hasil riba yang dimakan
seseorang sementara ia mengetahuinya, itu lebih buruk dari tigapuluh kali berzina.” (HR.
Ahmad)
Sumber:
Syaikhu, dkk, Fikih Muamalah, (Palangkaraya: K-Media, 2020)
Komentar
Posting Komentar