ILMU PENDIDIKAN ISLAM: LINGKUNGAN DAN TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN ISLAM
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
A. Pengertian Lingkungan dan Pendidikan Islam
Lingkungan secara umum didefinisikan sebagai segala sesuatu yang berada diluar diri manusia yang berhubungan dengan kehidupan manusia. Dalam hal ini kajian lingkungan masuk kedalam ruang lingkup kajian alam yang sejak pertama kali filsafat lahir, alam merupakan objek material dalam pembahasannya, dan hingga kini setelah berabad-abad berlalu ketika manusia telah menemukan eksistensi dirinya sebagai khalifah juga berusaha untuk melakukan penaklukanpenaklukan terhadap hakikat alam. Hal ini tercermin dalam perkembangan sains dan anak emasnya berupa teknologi semakin kukuh menempatkan posisi ilmu pengetahuan yang lebih berorientasi pada penakhlukan alam semesta berpijak pada logika sederhana relasi sebab-akibat warisan Aristoteles yang secara teknis disebut modus ponens, yakni ilmu pengetahuan alam.
FOOTNOTE:
Hidayat, A. (2015). Pendidikan islam dan lingkungan hidup. Jurnal Pendidikan Islam, 4(2), 375.
Selanjutnya, terdapat beberapa teori yang berkaitan dengan tanggung jawab Pendidikan Islam, di antaranya sebagaimana dikemukakan oleh Nashih Ulwan dalam kitabnya Tarbiyatul Aulad:
1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman (Tauhid), Syeikh Ahmad Farid menguraikan bahwa pendidikan iman adalah upaya meningkatkan kualitas iman generasi muda islam dan memupuk pohon iman yang ada dalam hati mereka dengan cara memperdalam pengetahuan mereka tentang tauhid, merenungkan isi kandungan al-Quran dan mengenal sosok dan profil nabi Muhammad SAW.
2. Tanggung Jawab Pendidikan Ahlak, dalam Islam Pendidikan Ahlak biasa dipahami sebagai sebuah latihan Psikis dan fisik. Latihan ini dapat menciptakan seseorang yang memiliki kebiasaan untuk menjalankan perintah Allah dengan rasa tanggung jawab yang tinggi. Peran gurulah yang bisa membimbing dan mengarahkan siswa untuk memiliki ahlak yang baik dan tinggi.
3. Tanggung jawab pendidikan fisik, dalam hal tanggung jawab fisik ini, terdapat beberapa hal yang diajarkan dalam Islam untuk menjaga fisik agar tetap prima, diantaranya: memberi nafkah pada anak dengan hasil dari yang halal; memakan dan meminum makanan yang sehat serta tidur yang teratur; mengindari diri dari penyakit menular; menghindari sesuatu yang tidak bermanfaat; membiasakan anak untuk berolah raga; membiasakan anak untuk zuhud atau tidak hedon dan membiasakan anak untuk bekerja keras dan sungguhsungguh dalam melakukan sesuatu.
4. Tanggung jawab pendidikan akal, ada beberapa hal yang bisa dilakukan guna merangsang berkembangnya intelektual anak diantaranya: menyiapkan kenyamanan belajar bagi anak, membiasakan anak untuk berpikir logis dalam menyelesaikan semua masalah, membiasakan anak berpikir sebab akibat dan membiasakan anak untuk berpikir objektif, dan bijaksana dalam mengambil sebuah keputusan
5. Tanggung jawab pendidikan sosial. Pendidikan sosial yang dimaksudkan adalah untuk membiasakan anak sedari kecil untuk melaksanakan adab sosial dengan baik yang didasarkan pada psikis yang baik dan bersumber pada ajaran islam agar tertanam rasa keimanan, sehingga nantinya dalam bermasyarakat nantinya dapat menampilkan perilaku dan ahlak yang baik, seimbang akan dan bijaksana dalam bertindaK.
6. Tanggung jawab pendidikan seksual. Tanggung jawab pendidikan seksual adalah upaya untuk menanamkan dan memberikan pemahaman, pengajaran dan penyadaran kepada anak tentang masalah seksual, naluri dan perkawinan. Pendidikan seksual ini, bisa diberikan sesuai dengan perkembangan usia anak.
FOOTNOTE:
Putra, P. H., Herningrum, I., & Alfian, M. (2021). Pendidikan Islam untuk Anak Berkebutuhan Khusus (Kajian tentang Konsep, Tanggung Jawab dan Strategi Implementasinya). Fitrah: Journal of Islamic Education, 2(1), 84-5
a. Jenis-Jenis Pendidikan
1. Pendidikan informal Pendidikan informal adalah pendidikan yang dilaksanakan di rumah tangga dimana orang tua sebagai penanggung jawab, pendidikan informal ini tidak mengenal penjenjangan secara struktural. Pada pendidikan informal tidak ditentukan persyaratan credential sama sekali. Pendidikan informal adalah proses yang berlangsung sepanjang usia sehingga setiap orang memperoleh nilai sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman hidup sehari-hari, pengaruh lingkungan termasuk di dalamnya adalah pengaruh kehidupan keluarga, hubungan dengan tetangga, lingkungan pekerjaan dan permainan, pasar, perpustakaan, dan media massa. 2. Pendidikan non formal Pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilaksanakan didalam masyarakat, pendidikan non formal kadang-kadang mempunyai penjenjangan secara struktural, tetapi tidak jelas dan tidak ketat. Pada pendidikan non formal kadang-kadang diperlukan credential tetapi tidak begitu jelas dan tidak ketat. Pendidikan non formal ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, diluar sistem persekolahan yang, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta didik tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya. 3. Pendidikan formal Pendidikan formal ialah pendidikan yang dilaksanakan disekolah dengan ketentuan-ketentuan dan norma-norma yang ketat, dengan pembatasan umur dan lamanya pendidikan berjenjang dari sekolah dasar, sekolah lanjutan pertama, sekolah lanjutan atas, dan perguruan tinggi. Pendidikan formal mencakup tiga segi materi yang menjadi bahan pendidikan, yaitu, pengetahuan, keterampilan, dan sikap ditekankan melihat kepada jenis sekolah nya. 66Pendidikan formal adalah kegiatan yang sistematis, bertingkat, berjenjang, dimulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi dan yang setara dengannya; termasuk ke dalamnya ialah kegiatan studi yang berorientasi akademis dan umum, program spesialisasi, dan latihan professional, yang dilaksanakan dalam waktu yang terus menerus. Lahirnya tiga jenis pendidikan itu karena sesuai kebutuhan pendidikan informal tidak mencukupi, karena itu diperlukan tambahan-tambahan itu dapat diperoleh dari pendidikan non formal dan formal. Begitu juga pendidikan non formal ia memerlukan tambahan dari pendidikan informal dan pendidikan formal. Pengertian di atas dapat digunakan untuk membedakan program pendidikan yang termasuk ke dalam setiap jalur pendidikan tersebut. Sebagai bahan untuk menganalisis berbagai program pendidikan maka ketiga batasan pendidikan di atas perlu diperjelas lagi dengan kriteria yang dapat membedakan antara pendidikan yang program-programnya bersifat non formal dengan pendidikan yang program-programnya bersifat informal dan formal. Perbedaan antara pendidikan yang programprogramnya bersifat non formal dan informal dapat dikemukakan sebagai berikut. Pendidikan yang program-programnya bersifat non formal memiliki tujuan dan kegiatan yang terorganisasi, diselenggarakan di lingkungan masyarakat dan lembaga-lembaga, untuk melayani kebutuhan belajar khusus para peserta didik. Sedangkan pendidikan yang program- programnya bersifat informal tidak diarahkan untuk melayani kebutuhan belajar yang terorganisasi. Kegiatan pendidikan ini lebih umum, berjalan dengan sendirinya, berlangsung terutama dalam lingkungan keluarga, serta melalui media massa, tempat bermain, dan lain sebagainya. Apabila kegiatan yang termasuk pendidikan yang programprogramnya bersifat informal ini diarahkan untuk mencapai tujuan belajar tertentu maka kegiatan tersebut dikategorikan baik ke dalam pendidikan yang program-programnya bersifat non formal maupun pendidikan yang program-programnya bersifat formal. Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa hakikatnya ketiga jenis pendidikan itu mempunyai satu tujuan yaitu memenuhi kebutuhan manusia dalam hidupnya. Ketiga jenis pendidikan itu bekerja sama dalam mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. Berdasarkan pengertian ini, dapat pula diketahui bahwa kerjasama antara rumah tangga, masyarakat dan sekolah perlu diadakan. Menurut catatan sejarah, pendidikan formal belum dikenal pada zaman Nabi Muhammad Saw jelas tidak dapat digolongkan sebagai lembaga pendidikan formal. Nabi Muhammad Saw mengajar orang-orang yang Islam membaca Alquran, tuntunan ibadah, amanah dan menunggang. Selain itu Nabi juga menyuruh orang-orang Islam belajar bahasa asing dengan maksud agar orang-orang Islam tidak tertipu oleh penggunaan bahasa asing tersebut. Di dalam kegiatan itu tidak ditemukan adanya kewajiban memenuhi syarat-syarat credential, suatu persyaratan penting di dalam pendidikan formal. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa berdasarkan fakta sejarah pada masa permulaan Islam pendidikan informal dan non formal itulah yang menduduki status yang penting didalam sistem pendidikan Islam.
b. macam- macam Tanggung Jawab Pendidikan Dalam Islam
Tanggung jawab pendidikan dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban melaksanakan tanggung jawab pendidikan dimanifestasikan dalam bentuk kewajiban melaksanakan kewajiban. Karena itu tanggung jawab pendidikan dalam Islam adalah kewajiban melaksanakan pendidikan menurut pandangan Islam. Menurut pendapat Tim Penyusun Buku Ilmu Pendidikan Islam, kewajiban melaksanakan pendidikan itu direalisasikan dalam wujud memberikan bimbingan baik pasif maupun aktif. Dikatakan pemberian bimbingan pas if adalah si pendidik tidak mendahului Masa Peka akan tetapi menunggu dengan seksama dan sabar, sedang bimbingan aktif terletak didalam: a. Pengembangan daya-daya yang sedang mengalami masa pekanya. b. Pemberian pengetahuan dan kecakapan yang penting untuk masa depan si anak. c. Membangkitkan motif-motif yang dapat menggerakkan SI anak untuk berbuat sesuai dengan tujuan hidupnya.
Dalam GBHN (Ketetapan MPR No. IV/MPRlI978), berkenaan dengan pendidikan di kemukakan antara lain sebagai berikut: "Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan dan tanggung jawab bersama antar keluarga masyarakat dan pemerintah" Sedangkan GBHN tahun 1988 (Tap MPR No. II/MPRl1988), tentang pendidikan dikemukakan antara lain sebagai berikut: "Pendidikan merupakan proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggu'1g jawab bersama antara keluarga, masyarakat. dan pemerintah. Memperhatikan penjelasan sebagai mana tersebut di atas, maka dalam uraian ini akan dikemukakan secara berturut-turut tanggungjawab pendidikan orang tua, sekolah, dan masyarakat.
a. Tanggung Jawab Orang Tua Orang tua memiliki tanggung jawab yang sangat besar dalam terselenggaranya pendidikan. Bahkan ditangan orang tualah pendidikan anak ini dapat terselenggara.
b. Tanggung Jawab Sekolah Yang dimaksud dengan sekolah disini adalah lembaga yang menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran secara formal. Karena itu istilah sekolah disini termasuk didalamnya madrasah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran telah ada sejak beberapa abad yang lalu, yaitu pada zaman Yunani Kuno. Kata sekolah berasal dari bahasa Yunani "Schola" yang berarti waktu menganggur atau waktu senggang. Bangsa Yunani Kuno mempunyai kebiasaan berdiskusi guna menambah ilmu dan mencerdaskan akal. Lambat laun usaha ini diselenggarakan secara teratur dan berencana (secara formal) sehingga akhimya timbullah sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang bertugas untuk pengetahuan dan kecerdasan akal. Sekolah didirikan bukan atas dasar hubungan darah antara guru dan siswa, tetapi berdasarkan hubungan yang bersifat formal (kedinasan). Karena itu siswa mengikuti pendidikan disekolah bukan atas dorongan yang bersifat kodrati, melainkan atas dasar dorongan kebutuhan dan tuntutan kemajuan zaman. Hubungan guru dengan murid bersifat formal, Karena itu tidak seakrab hubungan di dalam kehidupan keluarga karena dalam lingkungan terakhir ini hubungannya bersifat kodrati. Sekolah menyelenggarakan pendidikan karena mendapatkan limpahan sebagian dari tugas dan tanggung jawab orang tua untuk menyelenggarakan pendidikan. Tugas dan tanggung jawab sekolah terhadap pendidikan ini terbatas pada wewenang yang diberikan orang tua. Demikian juga terbatas selama anak mengikiuti pendidikan disekolah itu. Karena nyata di luar dari ini semua bukan menjadi wewenang sekolah. Pemikul tugas dan tanggung jawab pendidikan di sekolah adalah guru. Sedangkan menurut Team Penyusun Buku Ilmu Pendidikan Islam Departemen Agama RI, guru adalah pendidik professional karena secara implicit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tuanya. Guru· melaksanakan tugas yang berat tetapi mulia. Selanjutnya disamping tugas yang dipikulnya itu juga keuntungan-keuntungan yang lainnya baik segi moral maupun material guru mendapatkan penghargaan dan penghormatan tertentu dari masyarakat di lingkungannya. Di Negara-negara Timur sejak dahulu kala guru itu sebagai orang suci dan sakti, di Jepang guru disebut Sensei artinya yang lebih dahulu lahir, "yang lebih tua."
c. Tanggung Jawab Masyarakat Di dalam kehidupan masyarakat modem semua kepentingan rakyat. yang berlaku umum diatur dan diselenggarakan oleh pemerintah. Pemerintah bertindak sebagai wakil rakyat untuk mempertahankan keutuhan dan kelanjutan kehidupan bermasyarakat itu. Demikian juga halnya yang menyangkut dengan persoalan sekitar sekolah. Pemerintah mengatur segala sesuatu yang berhubungan dan menyangkut kepentingan bangsa dan rakyat, berkenaan dengan sekolah, hal ini berarti bahwa menjadi tugas pemerintah untuk menjamin kelanjutan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang diberikan di sekolah. Di Indonesia pendidikan Islam ditangani oleh Departemen Agama RI. Di Departemen Agama Pendidikan Islam diurusi oleh Direktorat Pembinaan Perguruan Agama Islam.
FOOTNOTE:
Rosmiyaty, Ilmu Pendidikan Islam, (Gowa: SIBUKU, 2019), hal 163-168
lingkungan adalah segala hal yang merangsang individu, sehingga individu turut terlibat dan mempengaruhi perkembangannya. Sedangkan Zakiah Daradjat (2006: 63) menjelaskan bahwa dalam arti yang luas lingkungan mencakup iklim dan geografis, tempat tinggal, adat istiadat, pengetahuan, pendidikan dan alam. Dengan kata lain, lingkungan adalah segala sesuatu yang tampak dan terdapat dalam alam kehidupan yang senantiasa berkembang. Ia adalah seluruh yang ada, baik manusia maupun benda buatan manusia, atau hal-hal yang mempunyai hubungan dengan seseorang. Sejauh manakah seseorang berhubungan dengan lingkungannya, sejauh itu pula terbuka peluang masuknya pengaruh pendidikan kepadanya. Selanjutnya, dia juga menjelaskan bahwa pengetahuan tentang lingkungan, bagi para pendidik merupakan alat untuk dapat mengerti, memberikan penjelasan dan mempengaruhi anak secara lebih baik. Misalnya, anak manja biasanya berasal dari lingkungan keluarga yang anaknya tunggal atau anak yang yang nakal di sekolah umumnya di rumah mendapat didikan yang keras atau kurang kasih sayang dan mungkin juga karena kurang mendapat perhatian gurunya. Dengan demikian lingkungan pendidikan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia, baik berupa benda mati, makhluk hidup ataupun peristiwa-peristiwa yang terjadi termasuk kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada individu.
Seperti lingkungan tempat pendidikan berlangsung dan lingkungan tempat anak bergaul. Secara umum lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap pendidikan adalah: (1). lingkungan fisik atau alam sekitar, (2) lingkungan sosio-kultural, (3) lingkungan sosio-budaya dan (4) lingkungan teknologi dan informasi. Ada tiga lingkungan pendidikan yaitu: lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. 1. Lingkungan Keluarga Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama dan utama, karena sebelumnya manusia mengenal lembaga pendidikan lain, lembaga pendidikan keluarga sudah ada. Dalam kajian antropologis, disebutkan bahwa manusia mengenal pendidikan sejak manusia baru lahir. Pendidikan yang dimaksud adalah keluarga. Di lingkungan keluarga pula siswa akan mendapat nasehat atau stimulus-stimulus yang dapat memacunya untuk rajin belajar.
2. Lingkungan Sekolah Menurut Tu’u (2004:18) sekolah merupakan wahana kegiatan dan proses pendidikan, pembelajaran dan latihan. Di sekolah nilai-nilai etik, moral, mental, spiritual, perilaku, disiplin, ilmu pengetahuan dan ketrampilan ditabur, ditanam, disiram, ditumbuhkan dan dikembangkan. Oleh karena itu, sekolah menjadi wahana yang sangat dominan bagi prestasi belajar. Menurut Depdiknas (2013: 1144) dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertian sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran. Sedangkan menurut kamus umum bahasa Indonesia sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan memberi pelajaran. Sedangkan berdasarkan undang-undang no 2 tahun 1989 sekolah adalah satuan pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan paparan di atas maka sekolah adalah suatu lembaga atau organisasi yang diberi wewenang untuk menyelenggarakan kegiatan pembelajaran. Sebagai suatu organisasi sekolah memiliki persyaratan tertentu.
3. Lingkungan Masyarakat Masyarakat dalam istilah bahasa Inggris adalah society yang berasal dari kata Latin socius yang berarti (kawan). Istilah masyarakat berasal dari kata bahasa Arab syaraka yang berarti (ikut serta dan berpartisipasi). Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul, dalam istilah ilmiah adalah saling berinteraksi. Suatu kesatuan manusia dapat mempunyai prasarana melalui warga-warganya dapat saling berinteraksi. Koentjaraningrat (2009: 115-118) menjelaskan bahwa masyarakat adalah kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama. Kontinuitas merupakan kesatuan masyarakat yang memiliki keempat ciri yaitu: (1) Interaksi antar warga-warganya, (2). Adat istiadat, (3) Kontinuitas waktu, dan (4) Rasa identitas kuat yang mengikat semua warga. Disisi lain Mac lver dan Page dalam Soerjono Soekanto (2006: 22), memaparkan bahwa masyarakat adalah suatu sistem dari kebiasaan, tata cara, dari wewenang dan kerja sama antara berbagai kelompok, penggolongan, dan pengawasan tingkah laku serta kebiasaan-kebiasaan manusia. Masyarakat merupakan suatu bentuk kehidupan bersama untuk jangka waktu yang cukup lama sehingga menghasilkan suatu adat istiadat. Dilain pihak Ralph Linton dalam Soerjono Soekanto, (2006: 22) menyatakan bahwa masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama, sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Sedangkan masyarakat menurut Selo Soemardjan dalam Soerjono Soekanto (2006: 22) adalah orang-orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan dan mereka mempunyai kesamaan wilayah, identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan. Berdasarkan paparan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah sekumpulan manusia yang berinteraksi dalam suatu hubungan sosial. Mereka mempunyai kesamaan budaya, wilayah, dan identitas, mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap, dan perasaan persatuan yang diikat oleh kesamaan. Lingkungan masyarakat sebagai lingkungan pendidikan yang sangat penting di luar lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah karena lingkungan masyarakat dapat berpengaruh terhadap perkembangan jiwa si anak didik. Lingkungan pendidikan masyarakat seringkali tidak terlihat, namun sebenarnya seorang siswa akan mendapat pengaruh yang cukup besar untuk rajin belajar dan bisa berprestasi, seperti misalnya terbawa dan mencontoh teman dan tetangga yang rajin belajar agar menjadi siswa yang berprestasi.
FOOTNOTE:
Rahmat Hidayat & Abdillah, Ilmu Pendidikan, (Medan: LPPPI, 2019), hal 113-122.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar