Cerpen : Takdir Yang Berbisik

Takdir Yang Berbisik karya : Fika Zahrotul Rofi'ah Fajar masih menggantung di ufuk timur kala Liona mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah mungil di sudut kampung. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Mentari mulai menampakkan diri, menyorotkan sinarnya yang menyengat. Namun itu tak menghalau Liona untuk terus melangkah. Pekerjaannya di kota sebagai seorang pembantu rumah tangga tak memungkinkannya memiliki waktu luang.  Saat Liona memasuki area perkotaan yang semakin padat, kedengaran dengungan hiruk-pikuk aktivitas manusia. Klakson mobil bersahutan, deru mesin kendaraan bermotor mengiringi setiap tapak kakinya. Liona menghela napas panjang. Ia telah terbiasa dengan semua itu.  Sesampainya di sebuah rumah mewah bergaya modern, Liona mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita setengah baya membukakan pintu untuknya. Senyum sumringah menghiasi wajah wanita itu. "Selamat pagi, Non. Seperti biasa, Liona akan membersihkan rumah dulu." Begitulah awal har...

PERENCANAAN PEMBELAJARAN: MODEL PEMBELAJARAN 2013

 MODEL PEMBELAJARAN DALAM KURIKULUM 2013

A. Pengertian Model Pembelajaran
Istilah model pembelajran amat dekat dengan strategi pembelajaran. Sofan Amri (2013) dalam bukunya mendefinisikan strategi, metode, pendekatan dan teknik pembelajaran antara lain sebagai berikut: 1. Strategi pembelajaran adalah seperangkat kebijaksanaan yang terpilih, yang telah dikaitkan dengan faktor yang menentukan warna atau strategi tersebut, yaitu: a) pemilihan materi pelajaran (guru dan siswa); b) penyaji materi pelajaran (perorangan atau kelompok); c) cara menyajikan materi pelajaran (induktif atau deduktif, analitis atau sintesis, formal atau non formal); dan d) sasaran penerima materi pelajaran (kelompok, perorangan, heterogen atau homogen) 2. Pendekatan pembelajaran adalah jalan atau arah yang ditempuh oleh guru atau siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran dilihat bagaimana materi itu disajikan. 3. Metode pembelajaran adalah cara mengajar secara umum yang dapat diterapkan pada semua mata pelajaran, misalnya mengajar dengan metode ceramah, ekspositori, tanya jawab, penemuan terbimbing dan sebagainya. 4. Teknik mengajar adalah penerapan secara khusus atau metode pembelajaran yang telah disesuaikan dengan kemampuan dan kebiasaan guru, ketersediaan media pembelajaran serta kesiapan siswa. Misalnya teknik mengajarkan perkalian dengan penjumlahan berulang dan atau dengan teknik yang lainnya. Strategi pembelajaran menurut Kemp (1995) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Senada dengan pendapatnya Kemp, Dick and Carey (1985) juga menyebutkan bahwa strategi pembelajaran itu adalah suatu perangkat materi dan prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama–sama untuk (halaman 19)
menimbulkan hasil belajar pada peserta didik atau siswa. Upaya mengimplementasi rencana pembelajaran yang telah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disunsun dapat tercapai secara optimal, maka diperlukan suatu metode yang digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah diterapkan. Dengan demikian bisa terjadi satu strategi pembelajaran menggunakan beberapa metode. Misalnya untuk melaksanakan strategi ekspositor bisa digunakan metode ceramah sekaligus metode tanya jawab atau bahkan diskusi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia termaksuk menggunakan media pembelajaran. Oleh sebab itu, strategi berbeda dengan metode. Strategi menunjukkan pada sebuah perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedang metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi. Dengan kata lain, strategi adalah a plan of operation achieving something, sedangkan metode adalah a way in achieving something. Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istialh pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Roy kellen (1998) mencatat bahwa terdapat dua pendekatan dalam pembelajaran, yaitu pendekatan yang berpusat pada guru (teacher centred approaches) dan pendekatan yang berpusat pada siswa (student centered approaches). Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositor. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran inkuri atau discovery serta pembelajaran induktif. Para ahli menyusun model pembelajaran berdasarkan prinsip– prinsip pembelajaran, teori–teori psikologi, sosiologis, analisis sistem, atau teori–teori lain yang mendukung (Joyce& Weil: 1980). Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya guru dapat memilih model yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajarannya.(halaman 20)

FOOTNOTE:
Nurdyansyah, dkk, Inovasi Model Pembelajaran, (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2016), hal 19-20.

SUMBER:
Nurdyansyah, dkk, Inovasi Model Pembelajaran, (Sidoarjo: Nizamia Learning Center, 2016).



MODEL-MODEL PEMBELAJARAN 2013

Kurikulum merupakan bagian integral dalam pendidikan dan persekolahan. Pembaharuan kurikulum adalah suatu keharusan di dalam perencanaan pendidikan dalam upaya menyiapkan generasi muda bangsa untuk berpacu dalam konstelasi kehidupan yang terus maju dan berkembang seiring dengan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam menghadapi arus globalisasi yang sudah di hadapan kita. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai bidang adalah suatu keharusan dalam kehidupan sekarang. Terdapat berbagai macam isu di seputar pendidikan kita, seperti banyaknya beban mata pelajaran di sekolah yang harus dipelajari peserta didik, pembelajaran lebih banyak berorientasi pada hafalan kurang pada pemahaman, rendahnya mutu pembelajaran terlebih dalam bidang 90 matematika dan IPA, rendahnya budi pekerti siswa, terjadi krisis karakter bangsa, serta ujian nasional menjadi momok dalam pendidikan, siswa, guru, dan masyarakat. Berbagai kesepakatan global telah dibuat dan ditandatangani, termasuk kita bangsa Indonesia sebagai warga masyarakat dunia, mulai dari Masyarakat Ekonomi ASEAN, AFTA, APEC, WTO. Semua bentuk kerjasama tersebut menuntut kesamaan kedudukan, harkat dan kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang teraplikasikan dalam berbagai macam produk. Semakin tinggi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi akan semakin mampu menciptakan produk yang unggul dalam kualitas dan kuantitas, maka akan semakin mampu bersaing dalam globalisasi ini. Sementara dalam kondisi riil bangsa kita sekarang dalam berbagai macam kompetisi dan persaingan global, kita bangsa Indonesia selalu dalam posisi di belakang. Hal-hal di atas merupakan permasalahan internal pendidikan kita yang harus diatasi serta tantangan global ke depan yang harus disiapkan. Mengantisipasi berbagai permasalahan tersebut, kurikulum 2013 membuat berbagai kebijakan strategis, baik terkait dengan mata ajar, paradigma pembelajaran, strategi pembelajaran, pendekatan pembelajaran, model pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran. Tulisan ini khusus membahas tentang model pembelajaran dalam kurikulum 2013. Permasalahan yang dibahas dalam artikel ini meliputi pengertian model pembelajaran, model pembelajaran discovery/inquiry, model pembelajaran berbasis masalah, model pembelajaran berbasis proyek, model pembelajaran kontekstual, dan model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran merupakan suatu pendekatan untuk menyiasati perubahan perilaku peserta didik secara adaptif maupun generatif, dan model pembelajaran berkaitan erat dengan gaya belajar peserta didik dan gaya mengajar guru yang sering dikenal dengan style of learning and teaching (solat) (Hanafiah dan Suhana, 2009: 41). Model pembelajaran adalah kerangka konseptual tentang prosedur sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar, baik pembelajar maupun pengajar (Suprijono, 2009: 46 dan Sani, 2013: 89). Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk buku-buku, film, komputer, dan lain-lain untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran (Joyce, dalam Trianto, 2007: 5). Demikian pula, ahli lain mengemukakan bahwa model pembelajaran merupakan kerangka konseptual prosedural yang sistematik berdasarkan teori dan digunakan dalam mengorganisasikan proses belajar-mengajar untuk mencapai tujuan belajar. Model pembelajaran terkait dengan pemilihan strategi dan pembuatan struktur metode, keterampilan, dan aktivitas peserta didik yang memiliki tahapan (sintaks) dalam pembelajaran (Sani, 2013: 89). Rusman (2010: 144-145) dalam bukunya yang berjudul Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme Guru mengemukakan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (sebagai rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang lain. Beliau menjelaskan bahwa model pembelajaran memiliki ciri sebagai berikut, yaitu (1) berdasar teori pendidikan dan teori belajar, (2) mempunyai misi dan tujuan tertentu, (3) sebagai pedoman untuk perbaikan kegiatan belajar-mengajar di kelas, 91 (4) mempunyai bagian yang disebut (a) urutan langkah-langkah pembelajaran, (b) ada prinsipprinsip reaksi, (c) sistem sosial, dan (d) sistem pendukung. (5) memiliki dampak sebagai akibat terapan model pembelajaran, (6) membuat persiapan mengajar (desain instruksional) dengan pedoman model pembelajaran yang dipilih. Iru dan Arihi (2012: 6-7) mengemukakan bahwa model pembelajaran dikembangkan atas beberapa asumsi, yaitu (1) mengajar adalah upaya menciptakan lingkungan yang sesuai, dimana terdapat berbagai lingkungan mengajar yang memiliki saling ketergantungan; (2) terdapat berbagai komponen yang meliputi isi, keterampilan peran-peran mengajar, hubungan sosial, bentuk-bentuk kegiatan, sarana/fasilitas fisik dan penggunaannya, yang keseluruhannya membentuk sebuah sistem lingkungan yang bagian-bagiannya saling berinteraksi, yang mendesak perilaku seluruh partisipan, baik guru maupun siswa; (3) antara bagian-bagian tersebut akan menghasilkan bentuk lingkungan yang berbedamdengan hasil yang berbeda pula; dan (4) karena model mengajar menciptakan lingkungan, maka model menyediakan spesifikasi yang masih bersifat kasar untuk lingkungan dalam proses belajar-mengajar di kelas. Dari asumsi tersebut maka model pembelajaran memiliki komponen: fokus, sintaks, sistem sosial, dan sistem pendukung (Iru dan Arihi, 2012: 7). Model-model pembelajaran memiliki ciri-ciri umum, yaitu (1) memiliki prosedur yang sistematis, (2) hasil belajar diterapkan secara khusus, (3) ada ukuran keberhasilan, dan (4) mempunyai cara interaksi dengan lingkungan (Iru dan Arihi, 2012: 8). Chauchan (Iru dan Arihi, 2012: 9) menyebutkan fungsi model pembelajaran adalah (1) sebagai pedoman, (2) sebagai alat bantu dalam mengembangkan kurikulum, (3) sebagai acuan dalam menetapkan bahan pembelajaran, dan (4) untuk membantu perbaikan dalam mengajar.


Model Pembelajaran Discovery/Inquiry
Model pembelajaran Discovery/Inquiry merupakan suatu rangkaian kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, dan logis sehingga dapat menemukan sendiri pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai wujud adanya perubahan tingkah laku (Hanafiah dan Suhana, 2009: 77). Ada 3 macam model pembelajaran ini, yaitu discovery/inquiry terpimpin, discovery/ inquiry bebas, dan discovery/inquiry yang dimodifikasi. Model ini berfungsi sebagai (a) membangun komitmen di kalangan peserta didik untuk belajar, yang diwujudkan dengan keterlibatan, kesungguhan, dan loyalitas terhadap mencari dan menemukan sesuatu dalam proses pembelajaran, (b) membangun sikap, kreatif, dan inovatif dalam proses pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pengajaran, dan (c) membangun sikap percaya diri dan terbuka terhadap hasil temuannya (Hanafiah dan Suhana, 2009: 78). Langkah-langkah dalam model discovery/inquiry, yaitu: 1. Mengidentifikasi kebutuhan siswa; 2. Seleksi pendahuluan terhadap konsep yang akan dipelajari; 3. Seleksi bahan atau masalah yang akan dipelajari; 4. Menentukan peran yang akan dilakukan setiap peserta didik; 5. Mencek pemahaman peserta didik terhadap masalah yang akan diselidiki dan ditemukan; 6. Mempersiapkan setting kelas; 7. Mempersiapkan fasilitas yang diperlukan; 8. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan penyelidikan dan penemuan; 9. Menganalisis sendiri atas data penemuan; 10. Merangsang terjadinya dialog interaktif antarpeserta didik; 92 11. Memberi penguatan 11. Memberi penguatan kepada peserta didik untuk giat dalam melakukan penemuan; 12. Memfasilitasi peserta didik dalam merumuskan prinsip-prinsip dan generalisasi atas hasil temuannya. Impak model discovery/inquiry, yaitu: 1. Membantu peserta didik untuk mengembangkan, kesiapan, serta penguasaan keterampilan dalam proses kognitif; 2. Peserta didik memperoleh pengetahuan secara individual sehingga dapat dimengerti dan mengendap dalam pikiran; 3. Dapat membangkitkan motivasi dan gairah belajar peserta didik untuk belajar lebih giat lagi; 4. Memberikan peluang untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuan dan minat masing-masing; 5. Memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses menemukan sendiri karena pembelajaran berpusat pada peserta didik dengan peran guru yang sangat terbatas.


Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pembelajaran berdasarkan masalah merupakan model pembelajaran yang didasarkan pada banyaknya permasalahan yang membutuhkan penyelidikan autentik, yakni penyelidikan yang membutuhkan penyelesaian nyata dari permasalahan nyata (Trianto, 2007: 67). Menurut Dewey, model pembelajaran berdasarkan masalah ini adalah interaksi antara simulus respon, hubungan antardua arah belajar dan lingkungan. Dalam model ini, siswa mengerjakan permasalahan yang autentik dengan maksud untuk menyusun pengetahuan mereka sendiri, mengembangkan inquiry dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri (Trianto, 2007: 67-68). Rusman (2009: 232) mengemukakan ciri-ciri model pembelajaran berbasis masalah, yaitu (a) permasalahan merupakan langkah awal dalam belajar, (b) permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang nyata yang membutuhkan perspektif ganda, (c) permasalahan menantang pengetahuan yang dimiliki dan membutuhkan identifikasi kebutuhan belajar baru, (d) belajar pengarahan diri menjadi utama, (e) pemanfaaatan sumber pengetahuan yang beragam, (f) belajar adalah kolaboratif, komunikasi, dan kooperatif, (g) pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah sama pentingnya dengan penguasaan isi pengetahuan untuk mencari solusi dari sebuah permasalahan, (h) keterbukaan proses dalam Proses Belajar-Mengajar meliputi sintesis dan integrasi dari sebuah proses belajar, dan (i) Proses Belajar-Mengajar melibatkan evaluasi dan review pengalaman siswa dan proses belajar.

Model Pembelajaran Berbasis Proyek
Sani (2013: 226-227) menjelaskan bahwa model pembelajaran berbasis proyek merupakan model pembelajaran yang dilakukan untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan peserta didik dengan cara membuat karya atau proyek terkait dengan materi ajar dan kompetensi. Proyek yang dibuat berkaitan dengan kebutuhan masyarakat, seperti pompa air sederhana, pupuk organik, barang kerajinan dari limbah plastik atau limbah kertas/karton, dan lain-lain. Proyek yang dibuat bisa sederhana atau prototipenya saja. Model pembelajaran berbasis proyek ini mencakup kegiatan menyelesaikan masalah, pengambilan keputusan, investigasi, dan keterampilan membuat karya. Peserta didik belajar berkelompok dan setiap kelompok bisa membuat proyek yang berlainan. Guru hanya sebagai fasilitator dalam 93 membantu merencanakan, menganalisis proyek, namun tidak sampai memberikan arahan dalam menyelesaikan proyek. Sintaks dalam model pembelajaran berbasis proyek sebagai berikut. Tahap pertama, guru memaparkan topik yang akan dikaji, tujuan belajar, motivasi, dan kompetensi yang akan dicapai. Tahap kedua, peserta didik mengidentifikasi permasalahan atau pertanyaan yang terkait dengan topik yang dikaji. Pertanyaan juga dapat diajukan oleh guru. Tahap ketiga, kelompok membuat rencana proyek terkait dengan penyelesaian permasalahan yang diidentifikasi. Tahap keempat, kelompok membuat proyek atau karya dengan memahami konsep atau prinsip yang terkait dengan materi pelajaran. Tahap kelima, guru atau sekolah memfasilitasi pameran atas pekerjaan/karya yang dihasilkan oleh peserta didik.

Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar dengan cara mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antarpengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sebagai anggota masyarakat (Nurhadi dalam Rusman, 2010: 190 dan Trianto, 2007: 101). Rumusan lain, model pembelajaran kontekstual merupakan proses pembelajaran holistik yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna berkaitan dengan konteks kehidupan nyata, sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dari konteks permasalahan ke satu permasalahan lain (Hanafiah dan Suhana, 2009: 67).Pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang mengakui dan menunjukkan kondisi alamiah dari pengetahuan. Model pembelajaran ini menjadikan pengalaman lebih relevan dan berarti bagi siswa dalam membangun pengetahuan karena model ini mengaitkan materi pelajaran yang dipelajari dengan konteks kehidupan nyata dan dihubungkan dengan gaya belajar siswa (Trianto, 2007: 104) Karakteristik model pembelajaran kontekstual adalah (Hanafiah dan Suhana, 2009: 69): 1. Kerjasama antarpeserta didik dan guru (cooperative) 2. Saling membantu antarpeserta didik dan guru (assist) 3. Belajar bergairah (enjoyfull learning) 4. Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual 5. Menggunakan multimedia dan sumber belajar 6. Cara belajar siswa aktif 7. Sharing bersama teman 8. Siswa kritis dan guru kreatif 9. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa 10. Laporan siswa bukan hanya buku rapor, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan dalam model pembelajaran kontekstual menurut Hanafiah dan Suhana (2009: 72-73), yaitu: 1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental peserta didik. 2. Membentuk kelompok belajar yang saling bergantung. 3. Mempertimbangkan keberagaman peserta didik. 4. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran mandiri dengan tiga karakteristik umum: kesadaran berpikir, penggunaan strategi, dan motivasi berkelanjutan. 5. Memperhatikan multi-intelegensi. 94 6. Menggunakan teknik bertanya dalam rangka meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan keterampilan baru. 7. Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika diberi kesempatan untuk belajar menemukan, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru. 8. Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) supaya peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan melalui penemuan sendiri. 9. Mengembangkan rasa ingin tahu di kalangan peserta didik melalui pengajuan pertanyaan. 10. Menciptakan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerja sama di antara peserta didik. 11. Memodelkan sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru. 12. Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentang apa yang sudah dipelajari. 13. Menerapkan penilaian autentik.

Model Pembelajaran kooperatif
Model pembelajaran kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri atas empat sampai enam orang yang bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam kelompok untuk saling berinteraksi, sehingga dalam model ini siswa memiliki dua tanggung jawab, belajar untuk dirinya sendiri dan membantu sesama anggota kelompok untuk belajar. Dari hasil penelitian Slavin dinyatakan bahwa (1) penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap tolerans dan menghargai pendapat orang lain, (2) pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dan pengalaman. Terdapat empat hal penting dalam adanya aturan main dalam kelompok, (3) adanya upaya belajar dalam kelompok, dan (4) adanya kompetensi yang harus dicapai oleh kelompok. Langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif, yaitu (1) menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, (2) menyajikan informasi, (3) mengelompokkan siswa, (4) membimbing kelompok bekerja dan belajar, (5) evaluasi, dan (6) memberikan penghargaan (Rusman, 2010: 202-211). Terdapat beberapa tipe dalam pembelajaran kooperatif, seperti Student Teams Achievement Division (STAD), Jigsaw, Group Investigation, Make a Match, Teams Games Tournaments (TGT), Think Pair Share (TPS), dan lain-lain.


SUMBER :
Yazidi, A. (2014). Memahami Model-Model Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013 (the Understanding of Model of Teaching in Curriculum 2013). Jurnal Bahasa, Sastra Dan Pembelajarannya4(1), 89-95.

Komentar