Cerpen : Takdir Yang Berbisik

Takdir Yang Berbisik karya : Fika Zahrotul Rofi'ah Fajar masih menggantung di ufuk timur kala Liona mengayunkan langkahnya meninggalkan rumah mungil di sudut kampung. Sesekali ia menyeka keringat yang membasahi dahinya. Mentari mulai menampakkan diri, menyorotkan sinarnya yang menyengat. Namun itu tak menghalau Liona untuk terus melangkah. Pekerjaannya di kota sebagai seorang pembantu rumah tangga tak memungkinkannya memiliki waktu luang.  Saat Liona memasuki area perkotaan yang semakin padat, kedengaran dengungan hiruk-pikuk aktivitas manusia. Klakson mobil bersahutan, deru mesin kendaraan bermotor mengiringi setiap tapak kakinya. Liona menghela napas panjang. Ia telah terbiasa dengan semua itu.  Sesampainya di sebuah rumah mewah bergaya modern, Liona mengetuk pintu. Tak berapa lama seorang wanita setengah baya membukakan pintu untuknya. Senyum sumringah menghiasi wajah wanita itu. "Selamat pagi, Non. Seperti biasa, Liona akan membersihkan rumah dulu." Begitulah awal har...

Ilmu Pendidikan Islam: Kurikulum & Komponen

A. Pengertian Kurikulum
Istilah kurikulum yang berasal dari bahasa Latin curriculum. semula berarti a running course, or race course, especially a chariot race course dan terdapat pula dalam bahasa Perancis courier artinya, to run, berlari. Kemudian istilah itu digunakan untuk sejumlah courses atau mata pelajaran yang harus ditempuh untuk mencapai suatu gelar atau ijazah. Seperti halnya dengan istilah-istilah lain yang banyak digunakan, kurikulum juga mengalami perkembangan dan tafsiran yang berbagai ragam. Hampir setiap ahli kurikulum mempunyai rumusan sendiri, walaupun di antara berbagai definisi itu terdapat aspek-aspek persamaan. Secara tradisional kurikulum diartikan sebagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradisional ini masih banyak dianut sampai sekarang, termasuk di Indonesia. Dalam perkembangan kurikulum sebagai suatu kegiatan pendidikan, timbul berbagai definisi lain. Definisi ini menentukan hal-hal yang termasuk ke dalam ruang lingkupnya. Saylor dan Alexander merumuskan kurikulum sebagai the total effort of the school situations. Definisi ini jelas lebih luas daripada sekadar meliputi mata pelajaran, yaitu segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu, kurikulum tidak hanya mengenai situasi di dalam sekolah, tetapi juga di luar sekolah. Definisi kurikulum yang termasuk luas dianut oleh banyak ahli kurikulum. Smith memandang kurikulum sebagai a sequence of potential experiences of disciplining children and youth in group ways of thinking and acting (Smith, 1957, h. 3). Dalam definisi ini jelas tampak penekanan Smith cs., pada aspek sosial, yakni mendidik anak menjadi anggota masyarakat. Definisi yang populer ialah the curriculum of a school is all the experiences the pupils have under the guidance of the school yaitu segala pengalaman anak di sekolah di bawah bimbingan sekolah. Definisi yang hampir sama antara lain disebutkan oleh Harold Alberty, John Kerr, dan lain-lain. Yang jelas ialah bahwa kurikulum bukanlah buku kurikulum, bukanlah sekadar dokumen yang dicetak atau distensil. Untuk mengetahui kurikulum sekolah, tidak cukup mempelajari buku kurikulumnya melainkan juga apa yang terjadi di sekolah, dalam kelas, di luar kelas, kegiatan-kegiatan di lapangan olah raga atau di aula, dan sebagainya. Kurikulum menurut Harold Rugg adalah the entire program of the school. It is the essential means of education. It is everything the students and their teacher do. Hilda Taba menekankan bahwa definisi kurikulum hendaknya jangan terlampau luas sehingga menjadi kabur dan tak-fungsional. Ia berpendirian bahwa kurikulum adalah a plan for learning. Pengembang kurikulum harus tahu tujuan apa yang dapat tercapai dalam kondisi yang bagaimana, sehingga tercapai proses belajar yang efektif. Di pihak lain, kurikulum jangan pula terlampau sempit tafsirannya. Luasnya pengertian kurikulum antara lain disebabkan kian bertambahnya tugas yang dibebankan kepada sekolah, bahkan juga tugas yang semula dipikul oleh badan-badan lain. Bukankah agama termasuk tanggung jawab gereja, mesjid, orang tua atau lembaga agama lainnya? Demikian pula kesehatan merupakan tanggung jawab para dokter, ketertiban lalu lintas tugás polisi lalu lintas, PKK termasuk masak-memasak dan urusan rumah tangga lainnya merupakan tanggung jawab orang tua, dan sebagainya. Kini semua tugas itu harus dipikul oleh sekolah. Karena banyaknya tanggung jawab yang dibebankan kepada sekolah, dan beban ini kian hari kian bertambah lagi seperti pelestarian alam KB, narkotika, dan sebagainya, maka ada golongan tertentu berpendirian, tak satu pun tugas yang dapat dilakukannya dengan baik. Karena itu golongan ini menginginkan agar tugas sekolah dibatasi pada tugas sekolah yang utama, yakni pendidikan intelektual. Kebanyakan orang tua tidak mampu melakukan tugas ini. Pada prinsipnya, tak banyak pendidik yang menerima definisi kurikulum yang sempit itu karena manusia senantiasa merupakan kebulatan yang mengandung aspek kognitif (intelektual), afektif (perasaan) maupun psiko-motor (keterampilan). Anak harus dibina secara keseluruhan. Hilda Taba mengemukakan bahwa curriculum is a plan for learning, bahwa kegiatan dan pengalaman anak di sekolah harus direncanakan agar menjadi kurikulum. Ada pula yang berpendirian bahwa kurikulum sebenarnya meliputi pengalaman yang direncanakan, dan yang tidak direncanakan yang disebut hidden curriculum atau kurikulum yang tersembunyi. Murid-murid mempunyai aturan-aturan sendiri sebagai reaksi terhadap kurikulum yang formal, seperti tentang mencontek, membuat pekerjaan rumah, menjadi juara kelas, sikap terhadap guru, dan sebagainya. Walaupun kurikulum sama, tiap murid bereaksi menurut caracara tersendiri. Apa yang dipelajari murid, apa yang diaktualisasikannya dari kegiatan atau pengalaman yang sama, tidak sama. Actual curriculum bagi tiap anak tidak sama walaupun potential curriculumnya sama. Kita lihat betapa banyak ragamnya para ahli kurikulum mendefinisikan kurikulum itu. Namun, tiap orang yang akan mengembangkan harus lebih dahulu menentukan apa tafsirannya tentang curriculum. Tafsiran itu erat hubungannya dengan persiapannya tentang tujuan pendidikan, hakikat manusia, dan masyarakat yang bertalian erat dengan falsafah seseorang.

SUMBER:
Hamdani Ihsan & Fuad Ihsan, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Pusataka Setia, 1998), hal, 131-133.




B. Komponen Dalam Kurikulum
Salah satu fungsi dari kurikulum adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya. Mohammad Mustari (2014) menyatakan bahwa komponen adalah satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Komponen pokok dari kurikulum meliputi: (1) tujuan, (2) materi atau isi, (3) strategi pembelajaran dan (4) evaluasi.

Sedangkan yang termasuk komponen penunjang kurikulum adalah (1) sistem administrasi dan supervisi, (2) sistem bimbingan dan penyuluhan, dan (3) sistem evaluasi.
Menurut Nana Sy. Sukmadinata (2010), kurikulum seharusnya mempunyai kesesuaian atau keterkaitan antara lain: (1) Kesesuaian kurikulum antara tuntunan, kebutuhan, kondisi, dan perkembangan masyarakat. (2) Kesesuaian antara komponen-komponen dalam kurikulum.
Dalam menetapkan komponen-komponen dalam kurikulum, para ahli memiliki perbedaan pendapat. Ada yang menyatakan empat komponen, ada juga yang menyatakan lima komponen. Walaupun begitu namun pada dasarnya tetap sama yakni (1) Tujuan, (2) Isi/ Materi, (3) Strategi dalam PBM, dan (4) Evaluasi. Adapun untuk lebih jelasnya akan dibahas berikut ini. Komponen Tujuan Komponen tujuan berhubungan dengan hasil (produk) yang diharapkan. Dalam skala makro rumusan tujuan kurikulum berkaitan erat dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat serta menggambarkan suatu masyarakat yang dicita-citakan. Gagne dan Briggs (1979) menyatakan bahwa tujuan merupakan suatu kapasitas yang dapat dilakukan dalam waktu tidak lama setelah suatu kegiatan pendidikan berlangsung, bukan merupakan apa yang dialami siswa selama proses pendidikan. Tujuan pendidikan memiliki klasifikasi dimulai dari tujuan yang sangat umum sampai tujuan khusus yang bersifat spesifik dan memiliki kompetensi yang dapat diukur. Tujuan pendidikan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu: 1. Tujuan Pendidikan Nasional (TPN) Tujuan pendidikan nasional bersifat paling umum dan merupakan sasaran yang harus dijadikan pedoman oleh setiap usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku yang ideal sesuai dengan pandangan hidup dan filsafat suatu bangsa yang Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari sistem nilai pancasila dirumuskan dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan bentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 2. Tujuan Institutional (TI) Tujuan institusional diharapkan dapat tercapai oleh setiap sekolah ataupun lembaga pendidikan. Tujuan institusional dirumuskan dalam bentuk kompetensi lulusan setiap jenjang pendidikan, misalnya standar kompetensi pendidikan dasar, menengah, kejuruan, dan jenjang pendidikan tinggi. 3. Tujuan Kurikuler (TK) Tujuan kurikuler adalah tujuan yang diharapkan dapat tercapai oleh setiap bidang mata pelajaran. 4. Tujuan Instruksional Tujuan instruksional merupakan bagian dari tujuan kurikuler sehingga dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik setelah mereka mempelajari materi tertentu dalam satu kali pertemuan. Guru yang berinteraksi langsung dan paling mengerti sifat, kondisi serta karakteristik peserta didik di kelas sehingga menjabarkan tujuan instruksional /pembelajaran merupakan tugas seorang guru.
 Komponen Isi Pada hakikatnya komponen isi merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Komponen tersebut menyangkut semua aspek, baik yang berhubungan dengan pengetahuan ataupun materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran. Baik materi maupun aktivitas pembelajaran tersebut seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Komponen Strategi Strategi dan metode merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Strategi pembelajaran dalam hal ini meliputi pendekatan, prosedur, metode, model, dan teknik yang dipergunakan dalam menyajikan bahan/isi kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum Nana sudjana (2000) mengemukakan bahwa pada hakikatnya strategi pembelajaran adalah tindakan nyata dari guru dalam melaksanakan pengajaran melalui cara tertentu yang dinilai lebih efektif dan efisien. Hal senada diungkapkan Dick dan Carey (1990) yang mengartikan strategi pembelajaran terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Komponen Evaluasi Evaluasi adalah komponen keempat kurikulum. Evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap belajar anak didik (output & proses belajar murid) juga keefektifan kurikulum & pembelajaran. Menurut Zais (1976), penilaian kurikulum secara luas adalah suatu usaha sangat besar yang kompleks yang menantang untuk mengkodifikasi menurut proses salah satu berdasarkan istilah sekuensi atau komponen-komponen. Evaluasi kurikulum secara luas tidak hanya menulis dokumen yang tertulis, namun yang lebih penting merupakan komponen kurikulum yang diterapkan menjadi bahan-bahan fungsional menurut kejadian-kejadian yg meliputi hubungan murid, pengajar, & material. Adapun kiprah penilaian pada kurikulum secara holistik, baik penilaian belajar anak didik, juga keefektifan kurikulum dan pembelajaran, bisa dipakai menjadi landasan pembangunan kurikulum. Kegiatan penilaian akan menaruh liputan & data mengenai perkembangan anak didik juga keefektifan kurikulum & pembelajaran, sehingga bisa dibentuk keputusan-keputusan pembelajaran dan pendidikan secara sempurna adalah salah satu komponen kurikulum. Evaluasi ditujukan untuk menilai pencapaian tujuan-tujuan yang sudah ditujukan dan menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan. Keterkaitan Antar Komponen Komponen tujuan berhubungan dengan hasil/ produk yang diharapkan. Bahkan rumusan tujuan harus menggambarkan cita-cita masyarakat. Isi kurikulum merupakan komponen yang berkaitan dengan pengalaman belajar yang seharusnya dimiliki siswa. Isi/ materi kurikulum itu termasuk semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambar pada isi setiap mata pelajaran yang diberikan maupun aktivitas dan kegiatan siswa. Baik materi maupun aktivitas itu seluruhnya diarahkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Strategi berkaitan dengan upaya yang harus dilakukan dalam rangka pencapaian tujuan. Strategi yang ditetapkan dapat berupa strategi yang menempatkan siswa sebagai pusat dari setiap kegiatan, ataupun sebaliknya. Strategi yang berpusat kepada siswa biasa dinamakan teacher centered. Strategi yang bagaimana yang dapat digunakan sangat tergantung kepada tujuan dan materi kurikulum. Evaluasi merupakan komponen untuk melihat efektivitas pencapaian tujuan. Dalam konteks kurikulum evaluasi dapat berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, atau evaluasi digunakan sebagai umpan balik dalam perbaikan strategi yang diterapkan.


SUMBER:
Pratiwi Bernadetta, Kurikulum dan Pembelajaran, (Deli Serdang: Yayasan Kita Menulis, 2021), hal, 26-35.


Komentar